Harga Jernang Anjlok di Aceh, Petani Pidie Tebang Tanaman Beralih ke Kopi

Amiruddin Abdullah Reubee
13/4/2026 07:44
Harga Jernang Anjlok di Aceh, Petani Pidie Tebang Tanaman Beralih ke Kopi
Petani di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh, sedang memanen jernang.(MI/Amir MR)

PARA petani jernang di kawasan Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, kini didera keresahan mendalam. Sejak dua tahun terakhir, harga biji jernang yang merupakan bahan baku utama obat-obatan, kosmetika, hingga pewarna alami, mengalami penurunan drastis yang membuat semangat para petani lesu.

Rendahnya daya tawar pasar saat ini dinilai tidak lagi berpihak pada petani. Kondisi yang berlarut-larut ini memaksa sebagian besar petani mengambil langkah ekstrem dengan menghentikan budi daya tanaman yang sempat menjadi primadona tersebut.

Harga Terjun Bebas dari Ratusan Ribu ke Puluhan Ribu

Berdasarkan penelusuran Media Indonesia di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, harga biji jernang kering panen saat ini hanya berkisar di angka Rp30.000 per kilogram (kg). Angka ini merosot tajam dibandingkan dua tahun lalu yang masih berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp130.000 per kg.

"Sejak tahun 2025 harganya terjun bebas. Sebelumnya masih lumayan," ungkap salah seorang petani, Muhammad Khaifal Al-Khudri, kepada Media Indonesia, Minggu (12/4).

Khaifal menjelaskan bahwa biaya produksi dan tingkat kesulitan budi daya jernang tidak lagi sebanding dengan harga jual saat ini. Tanaman jernang dikenal sulit dibudidayakan karena sifatnya yang menjalar dan dipenuhi duri tajam sehingga berisiko melukai petani saat perawatan maupun panen.

Analisis Harga: Pada masa kejayaannya di tahun 2017 dan 2018, harga jernang sempat menyentuh angka Rp350.000 per kg. Namun, tren penurunan terus terjadi hingga mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir di kisaran Rp20.000-Rp30.000 per kg.

Alih Fungsi Lahan ke Kopi dan Kakao

Akibat ketidakpastian harga, banyak kebun jernang di kawasan dataran tinggi Tangse kini telah dialihfungsikan. Para petani memilih menebang tanaman jernang mereka dan menggantinya dengan komoditas lain yang dianggap lebih stabil secara ekonomi.

"Harga di bawah Rp100.000 saja sudah tidak sesuai dengan biaya produksi, apalagi Rp30.000. Itu sebabnya banyak petani membuang jernang dan beralih ke tanaman lain seperti kopi, kakao, dan berbagai tanaman palawija," tambah Khaifal.

Fenomena ini menjadi sinyal peringatan bagi sektor perkebunan di Aceh. Tanpa intervensi pasar atau stabilisasi harga dari pihak terkait, komoditas jernang yang dulunya menjadi tumpuan ekonomi warga Tangse terancam ditinggalkan sepenuhnya oleh para petani lokal. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya