Cegah Malaria dan DBD, OIKN Latih Kemampuan Tim K3 Proyek

Ervan Masbanjar
10/4/2026 12:58
Cegah Malaria dan DBD, OIKN Latih Kemampuan Tim K3 Proyek
Pelatihan Kader Pencegahan Malaria dan DBD di IKN.(Dok.Istimewa)

GUNA mencegah merebaknya malaria dan demam berdarah dengue (DBD) Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) mendorong dan memaksimalkan peran kader kesehatan sebagai ujung tombak pengendalian dan memberikan pelatihan pencegahan malaria dan DBD di IKN pada tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) proyek pembangunan kontruksi di IKN , Kamis (9/4) di Multifunction Hall Kantor Bersama 4, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN

“Melalui Pelatihan Kader Pencegahan Malaria dan DBD yang digelar, maka pemerintah menegaskan bahwa pengendalian penyakit menular tidak lagi bertumpu pada sektor kesehatan semata,” tegas Direktur Pelayanan Dasar Otorita IKN, Suwito dalam arahannya.

Ia mengungkapkan, pelatihan ini diikuti oleh pengelola hunian dan tim K3  berbagai paket pekerjaan di wilayah KIPP IKN. Mereka diproyeksikan menjadi kader kesehatan yang berperan dalam edukasi masyarakat, pengendalian lingkungan, serta pencegahan penyakit di lingkungan kerja masing-masing.

Sebagai tindak lanjut, setelah pelatihan ini OIKN akan membentuk tim kader kesehatan IKN, melalui surat keputusan resmi, beranggotakan seluruh peserta yang mengikuti pelatihan, dan diharapkan dapat menjalankan peran dalam edukasi masyarakat, pengendalian vektor di lingkungan, serta pencegahan penyakit secara berkelanjutan.

“Kami menekankan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam memutus rantai penularan. Pengendalian malaria dan DBD tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor kesehatan. Peran masyarakat menjadi kunci utama,” tegasnya.

Dijelaskannya, malaria ditularkan oleh nyamuk anopheles, sedangkan DBD oleh aedes aegypti. Namun jika vektornya dapat dikendalikan, penularan dapat dicegah. Memang wilayah KIPP IKN saat ini sudah tidak memiliki penularan malaria lokal.  “Meskipun tidak memiliki penularan malaria lokal, tetapi kasus DBD masih menjadi tantangan yang harus dihadapi,” katanya. 

Oleh karena itu, OIKN menargetkan penurunan kasus DBD hingga 50% melalui penguatan sistem kewaspadaan dini dan peningkatan peran masyarakat, terutama di kawasan hunian dan area konstruksi yang berisiko tinggi akibat genangan air.

PENDEKATAN BERBASIS MASYARAKAT
Di tempat yang sama, perwakilan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Bambang Siswanto, menegaskan pentingnya pendekatan berbasis masyarakat dalam pengendalian penyakit. Saat ini, pihaknya sedang menggencarkan program ‘Kampung Bebas Jentik’.

“Program ini memiliki tujuan untuk mengendalikan vektor penyakit seperti malaria dan DBD, program tersebut telah diujicobakan di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Penajam Paser Utara,” jelasnya.

Pengendalian jentik nyamuk jenis ini, lanjutnya, harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga pemerintah daerah dan masyarakat.

“Peran utama kini berada pada camat, kepala desa, dan pemerintah daerah, sementara tenaga kesehatan berperan sebagai pendamping teknis. Selain itu, pemerintah juga tengah menyusun konsep kawasan bebas jentik untuk area khusus seperti kawasan industri dan kawasan IKN,” urainya.

TANTANGAN PENGENDALIAN
Menurutnya, di lapangan tantangan pengendalian penyakit muncul seiring aktivitas pembangunan. Area konstruksi dinilai menjadi titik rawan berkembangnya nyamuk akibat genangan air. 

Sementara itu, perwakilan seorang peserta HSE Paket Proyek Yudikatif, Reza menerangkan, pihaknya di site proyek dan di paket-paket lainnya apabila ada pekerja baru masuk akan diperkenalkan sistem HSE induction atau screening kesehatan. “Kami juga menanyakan riwayat penyakit sebelumnya, berasal dari daerah mana dan sebagainya,” pungkasnya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya