Rayakan Tumbuk Ageng, GKR Hemas Cemaskan Lunturnya Keberagaman

Agus Utantoro
21/12/2016 16:17
Rayakan Tumbuk Ageng, GKR Hemas Cemaskan Lunturnya Keberagaman
(MI/M.Irfan)

WAKIL KETUA DPD RI yang juga Permaisuri Keraton Yogyakarta, Gusti Kangjeng Ratu Hemas mengungkapkan, Indonesia sering menghadapi ujian dan tantangan yang mengarah ke disintegrasi bangsa dalam bentuk upaya memecah belah bangsa melalui sentimen anti-multikultural dan antiperbedaan.

Pada peluncuran buku berjudul 'Memaknai Tumbuk Ageng' yang merupakan catatan-catatan GKR Hemas pada usia delapan windu (tumbuk ageng) atau 64 tahun, ia pun meminta agar program-program berbasis keragaman harus terus dikembangkan.

"Saya sangat sedih jika ada sekolah yang masih mengajarkan perbedaan, bukan keberagaman,” katanya. Sekolah semacam ini, ujarnya, tidak kondusif bagi bangunan kerukunan di Indonesia ke depan.

Menurut GKR Hemas, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa faktor penyebab rusaknya kerukunan kehidupan masyarakat Indonesia dalam bingkai keberagaman ialah tidak diterapkannya pendidikan berbasis multikulturalisme sejak dini. Akibatnya, Indonesia sulit terbebas dari masalah-masalah terkait dengan isu SARA.

GKR Hemas menambahkan, jika permasalahan ini tidak ditangani cepat dan tepat, anak cuku bisa menjadi korban perpecahan. “Suka atau tidak suka kita ini hidup di negeri yang multietnik, multibudaya. Jika ingin survive sebagai bangsa, wajib memiliki pandangan yang multikultural dan pandangan yang menghargai berbagai perbedaan,” terangnya.

Sementara Sri Sultan HB X mengatakan, tumbuk ageng atau delapan windu merupakan salah satu siklus penting bagi orang Jawa. “Karena memberi penanda seseorang memasuki masa senja,” katanya.

Masa ini, tutur Sultan, ibarat waktu Asar hampir usai dan menjelang Magrib. “Inilah saatnya orang tua membimbing anak cucunya memasuki pergantian masa dari keremangan senja ke malam tiba,” katanya.

Dalam siklus kehidupan, lanjutnya, usia ini juga adalah sarat kehidupan spiritual, memasuki masa kerelaan untuk berkorban dan mengambil pelajaran dari setiap ujian kehidupan.

“Itulah masa pergantian yang harus dilewati nJeng Ratu dengan penuh kehati-hatian ibarat meniti rambut dibelah tujuh,” kata Sri Sultan.

Sri Sultan mengemukakan tantangan yang harus dihadapi GKR Hemas adalah seperti bougenville dalam bejana pualam. Karena GKR Hemas memiliki ruang gerak terbatas antara menjaga tradisi dan menjadi pembaharu.

Namun dengan berbagai keterbatasan itu, GKR Hemas berhasil menyelaraskan perannya di Keraton Yogyakarta dengan perannya sebagai pejabat publik. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya