Kerugian Banjir Bandang Garut Capai Rp288 Miliar

RO
18/10/2016 16:18
Kerugian Banjir Bandang Garut Capai Rp288 Miliar
(MI/PANCA SYURKANI)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengestimasikan total kerusakan dan kerugian pascabencana banjir bandang Garut mencapai Rp288 miliar.

Nilai tersebut berasal dari kajian penilaian di lima sektor yaitu permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi, dan lintas sektor. Sektor permukiman dengan sub-sektor perumahan dan prasarana lingkungan memiliki nilai kerusakan dan kerugian sekitar Rp83 miliar.

BNPB menengarai persoalan mendasar yang bakal dihadapi ialah pendanaan terhadap proses rehab-rekon tersebut. Pemerintah daerah memproyeksikan skema pendanaan dari APBD dan APBN, namun tentu jumlah yang dianggarkan belum mencukupi total nilai kerusakan dan kerugian.

Karena itu, menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dunia usaha atau pun Badan Usaha Milik Negara maupun masyarakat dapat berperan untuk mendukung proses rehab-rekon tersebut.

"Seperti pascabencana Banjarnegara dan Purworejo. Dunia usaha dan masyarakat terbukit mampu untuk mempercepat proses rehab-rekon pascabencana," kata Sutopo dalam keterangan persa, Selasa (18/10).

Di sisi lain, pemahaman warga yang terdampak atau mereka yang berada di kawasan rawan sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses rehab-rekon. Sekretaris Daerah Kabupaten Garut Iman Alirahman mengakui aparatnya mengalami kesulitan untuk meyakinkan warga pindah.

“Sekalipun diberi rumah, mereka memaksakan untuk membangun kembali rumahnya di lokasi terdampak," kata Iman yang menghadiri Rapat Koordinasi Rencana Aksi Rehab-Rekon Pascabencana Banjir Bandang Garut pada Selasa (18/10) di Graha BNPB, Jakarta Timur.

Pemerintah Kabupaten Garut menghadapi tantangan karena kawasan Garut 81% merupakan kawasan hutan lindung sedangkan sisanya kawasan yang dapat dibudidayakan. Penataan kawasan menjadi problematika, khususnya terkait dengan pemukiman warga terdampak dan penghidupan.

“Relokasi tidak hanya berdasarkan jumlah rumah yang akan dibangun tetapi juga penentuan kawasan yang aman,” tambah Iman.

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati, data pengungsi yang terdampak banjir bandang berjumlah 787 KK (2.525 jiwa) dan data rumah rusak berjumlah 2.529 unit dengan rincian 830 rusak berat, 473 rusak sedang, dan 1.226 rusak ringan.

Rehab-rekon pascabencana banjir bandang Garut ini akan berlangsung selama tiga tahun, dari 2016 hingga 2018. Setelah tiga tahun, nantinya pembiayaan dianggarkan pada APBD Kabupaten Garut. Namun demikian tidak tertutup kesempatan pihak-pihak lain untuk bersinergi mempercepat proses rehab-rekon Garut. (RO/X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya