Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM dua pekan terakhir kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya terus meningkat. Dalam satu hari, bisa terjadi 2-3 kali kebakaran. Kondisi ini berpotensi bencana kabut asap, seperti pada 2015.
Sampai saat ini sudah 15 hektare (Ha) lahan gambut yang terbakar. Berdasarkan pantauan udara, kobaran api besar melahap lahan gambut. Kepulan asap tebal terlihat membumbung tinggi.
"Sampai dengan tangal 1 Juni sudah mencapai 15 hektare yang terbakar luasan lahannya. Karena kita melihat intesitas yang semakin tinggi tentunya, ada kekhawatiran dari kami bahwa akan terjadi kabut asap," ujar Emi Abriyani, Ketua Satgas Karhutla Palangka Raya.
Baca juga: Kalsel Minta Bantuan Delapan Helikopter Water Bombing
Guna mengantisipasi kabut asap, petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kehutanan, dan relawan melakukan pendeteksian titik api. "Apabila ada titik api yang muncul akan langsung kami padamkan," ujar Emi.
Kekhawatiran itu pun bukan tanpa alasan. Pasalnya sudah 20 hari terakhir Palangka Raya tidak mengalami hujan.
Baca juga: Tim Restorasi Gambut Kalimantan Selatan Lakukan Pembasahan Gambut
Hingga saat ini satgas karhutla palangka raya terus menggencarkan patroli dan penanganan karhutla agar tidak semakin parah. Sementara itu warga masyarakat diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar ditengah cuaca panas ekstrem dan memasuki musim kemarau saat ini.
Harapan tidak terjadi kabut asap juga dikemukakan Hera, warga Palangka Raya. Pasalnya kabut asap akan berdampak pada kesehatan warga.
"Mestinya sangat khawatir karena kebakaran hutan sangat membahayakan. apalagi di hutan banyak hewan dan asap itu berdampak sama kita," ujar Hera. (Z-3)
Edukasi kepada masyarakat menjadi fokus utama dalam strategi pencegahan. Karena, kesadaran warga adalah faktor krusial dalam mengurangi risiko karhutla.
Wilayah rawan karhutla di Bangka antara lain Belinyu, Bakem, Puding dan Lintas Timur Bangka.
Musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya, membentang dari April hingga Oktober.
TIM gabungan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Minggu (26/4) siang berhasil memadamkan terjadinya karhutla.
Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau saat ini telah melejit 20 kali lipat menjadi 8.555,37 hektare dibanding 2025.
Salah satu dampak bencana adalah kekeringan akibat musim kemarau panjang. Warga Pekanbaru juga diingatkan untuk tidak membakar lahan.
Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor kunci dalam pengendalian kebakaran hutan.
Dana hasil penegakan hukum tersebut, lanjut Lukita, dikembalikan untuk mendukung pemulihan ekosistem hutan yang rusak akibat kebakaran.
REGU pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Manggala Agni terus mengintensifkan upaya pemadaman di sejumlah titik api di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Awal 2026 yang seharusnya berada dalam periode musim hujan justru ditandai dengan lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di ekosistem gambut.
Manggala Agni Daops Sumatera V/Dumai bersama TNI, Polisi, BPBD Kota Dumai, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga saat ini masih berupaya keras memadamkan karhutla seluas 2 hektare di Riau.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved