Antara Rasionalitas dan Mistisisme

(AFP/Hym/I-1)
31/5/2016 02:00
Antara Rasionalitas dan Mistisisme
(AP/EUGENE HOSHIKO)

MESKI termasuk modern dan maju secara ekonomi maupun penguasaan teknologi, masyarakat Jepang tetap percaya pada hal-hal yang gaib. Sejak zaman kuno, mereka meyakini bahwa alam menyimpan kekuatan yang tak dapat diraba dengan pancaindra. Bukti terhadap keyakinan tersebut dapat ditemukan di seluruh pelosok negeri, baik itu berupa batu yang dianggap suci atau pohon cemara tempat kami (makhluk gaib) dipercayai tinggal atau bersemayam. Selain itu, banyak tempat suci yang umumnya disebut jinja. Di tempat suci atau jinja itu kami biasanya 'diabadikan'. Tempat persemayamannya terdiri dari sebuah bangunan yang dikelilingi rerimbunan pohon. Menurut Shinto, agama asli masyarakat Jepang, kami disembah saat matsuri perayaan/seremonial/ritual yang berlangsung khidmat serta festival adat. Ada lebih dari 100 ribu tempat suci Shinto di Jepang yang berada di pusat kehidupan spiritual negara. Secara historis, Jingu, Kuil Agung Ise, merupakan tempat yang paling terhormat di antara semua kuil Shinto. Kuil Agung Ise dianggap sebagai rumah spiritual bagi rakyat Jepang, yang sebagian besar ingin melakukan ziarah ke Jingu setidaknya sekali selama hidup mereka.

Bahkan, lebih dari 6 juta peziarah dan pemuja kepercayaan itu datang ke Jingu saban tahun. Dikenal sebagai O-Ise-san atau secara resmi sebagai Jingu, Ise Jingu prinsipnya terdiri dari Kuil Naiku dan Geku, tempat dewi tertinggi Amaterasu Omikami (Dewi Matahari) dan Dewa Agung Toyouke Omikami disembah. Kuil Naiku dan Geku dibangun di tengah perkebunan hutan kuno dengan ratusan pohon Cryptomeria yang menjulang. Selain itu, Jingu termasuk 14 tempat suci lainnya serta 109 tempat suci berkedudukan lebih rendah. Akses ke Kuil Naiku dan Geku sangat terbatas, hanya untuk imam berpangkat tinggi tertentu, pendeta, dan anggota keluarga kerajaan. Masyarakat umum hanya diizinkan untuk melihat sedikit bagian atap jerami dari bangunan suci itu, yang tersembunyi di balik empat pagar kayu tinggi. Imam besar atau pendeta perempuan kompleks Jingu pun tak ditunjuk sembarangan.

Mereka harus berasal dari keluarga Kerajaan Jepang dan bertanggung jawab untuk mengawasi kuil-kuil. Seperti dikutip Sacredsites.com, diyakini Kuil Jingu dari Naiku dan Geku pertama kali dibangun pada abad kelima. Sejak abad ketujuh, Naiku, Geku, dan tempat-tempat suci lainnya masing-masing telah dibangun kembali (renovasi) setiap 20 tahun. Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis.
Menurut agama Shinto, watak manusia pada dasarnya ialah baik dan bersih. Jelek dan kotor ialah pertumbuhan kedua dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara penyucian (harae).

Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama bertujuan memuja Dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada tiap Juli dan Agustus di atas Gunung Fujiyama. Festival tahunan paling penting yang diadakan di Kuil Ise ialah Festival Kannamesai. Ritual yang diselenggarakan pada Oktober setiap tahun itu membuat persembahan panen pertama dari untuk Amaterasu. Seorang utusan kekaisaran membawa persembahan beras yang dipanen sendiri oleh kaisar untuk Ise, serta kain sutra lima warna dan bahan-bahan lainnya, yang disebut heihaku.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya