Hujan Ekstrem Timbulkan Banjir dan Longsor

MI
13/6/2015 00:00
Hujan Ekstrem Timbulkan Banjir dan Longsor
(ANTARA)
HUJAN ekstrem yang melanda Sumatra Barat sejak April lalu telah mengirim sinyal berbagai bencana di beberapa daerah. Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Padang, Budi Samiaji, mengatakan hujan yang terjadi di Padang pada Jumat (12/6) mencapai 103 mm/12 jam. Kemudian di Tiku, Kabupaten Agam, mencapai 243 mm/12 jam, Kabupaten Padang Pariaman 161 mm/12 jam, dan Kabupaten Pasaman Barat 166 mm/12 jam.

"Hujan ekstrem di atas 50 mm per hari atau di atas 20 mm per jam bisa menyebabkan banjir," ujar Budi di Padang, kemarin.

Dia mencontohkan hujan lebat sejak Kamis (11/6) sore hingga kemarin pagi menyebabkan sejumlah sungai di Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat meluap.

Selain banjir, terjadi longsor tebing di ruas jalan nasional Padang-Painan Km 67, Kecamatan IV Jurai. Material longsor menimpa separuh jalan sepanjang 12 meter dengan ketebalan 3 meter. "Namun kondisi itu tidak memutuskan jalur lalu lintas," terang Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPB) Sumatra Barat, Zulfianto.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasaman Barat Asgiarman menambahkan, hujan ekstrem menyebabkan Sungai Aur di Kecamatan Sungai Aur meluap. "Ketinggian air akibat luapan su-ngai 40-50 cm," jelasnya.

Menurutnya, Sumbar rentan banjir dan longsor karena bertopografi perbukitan dan banyak sungai.

Sebaliknya di Sukabumi, Jawa Barat, BPBD setempat telah mengeluarkan peri-ngatan terjadinya rawan kekeringan di 34 kecamatan dari 47 kecamatan. Rata-rata wilayah berpotensi rawan kekeringan itu berada di selatan Kabupaten Sukabumi.

"Data tersebut berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya. Sedikitnya terdapat 34 kecamatan yang rawan kekeringan, di antaranya Kecamatan Tegalbuleud, Sagaranten, Cidolog, dan Curugkembar," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sukabumi, Irwan Fajar, kemarin.

Daerah-daerah rawan kekeringan itu sebagian di antaranya merupakan wilayah rawan krisis air meski ada hujan turun. Irwan menambahkan, pihaknya sudah mengimbau aparatur kecamatan dan desa untuk mewaspadai bencana keke-ringan bersamaan dengan prediksi mulai memasuki musim kemarau saat ini.

"Dari sekitar 42 ribu hektare lahan sawah di Kabupaten Sukabumi, sebetulnya daerah yang terancam keke-ringan sekitar 15 ribu hektare. Tapi yang sudah dilaporkan sekitar 5.200 hektare. Mayoritas berada di wilayah Jampang (Jampangkulon dan Jampang tengah)," kata Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sukabumi Sudrajat kepada Media Indonesia. (YH/BB/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya