SEBANYAK 36 kepala keluarga atau sekitar 200 jiwa warga pemeluk Ahmadiyah sudah 10 tahun bertahan dan mengungsi di Wisma Transito Mataram, Nusa Tenggara Barat. Mereka berharap Presiden Joko Widodo bisa menuntaskan persoalan para pengungsi tersebut.
"Kami ingin pulang ke rumah dan kampung halaman kami. Kalau bukan presiden maka hanya waktu yang bisa mengubah kondisi ini," kata Sulaiman Damanik, juru bicara pengungsi, kemarin.
Para pengungsi itu terusir dari rumah mereka di perumahan BTN Bumi Asri, Dusun Ketapang, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Februari 2006. Kala itu, sejumlah warga menyerang, merusak, dan membakar rumah mereka.
Berbagai upaya sudah mereka lakukan untuk dapat kembali pulang ke kampung halaman. Namun, mereka tidak berani pulang karena tidak ada jaminan keamanan dari pemerintah.
Selain orang dewasa, anak-anak yang tinggal di wisma itu juga mengaku ingin pulang. Barahim, 9, misalnya, ia menulis "Pak Jokowi, kami anak-anak Transito ingin pulang ke rumah. Tolong dengar kami, terima kasih."
Barahim ialah salah satu dari puluhan anak-anak Ahmadiyah yang lahir di Wisma Transito Mataram. Kehidupan warga Ahmadiyah saat ini sudah sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, karena mereka sudah bisa diterima oleh masyarakat sekitar. (YR/N-3)