MINAT pengusaha asal Tiongkok untuk berinvestasi di Jawa Tengah sangat besar. Hanya, mereka mensyaratkan kondisi ideal dalam hal perizinan, lokasi industri, dan infrastruktur terpenuhi.
"Kami baru saja mengunjungi Tiongkok untuk menjaring investor dari negeri itu. Minat pengusaha negeri itu untuk berinvestasi di Indonesia, terutama di Jawa Tengah, sangat besar," papar Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, di depan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, kemarin.
Dari hasil kunjungan itu, Ganjar berjanji akan membenahi soal perizinan, lokasi industri, dan infrastruktur. Pembenahan infrastruktur, selain memenuhi tuntutan investor, juga menjadi kebutuhan utama warga Jawa Tengah.
Masalah infrastruktur itu terungkap lewat survei yang digelar pakar marketing Hermawan Kartajaya. Saat ini, Pemprov Jawa Tengah merangkul Hermawan untuk merancang ulang rebranding bagi provinsi tersebut.
"Ada tiga karakteristik utama masyarakat Jateng berdasarkan survei, yakni minat besar terhadap pembangunan infrastruktur, kecintaan pada budaya, dan problem ekonomi yang besar," kata Ganjar.
Dari survei dan hasil kunjungannya ke Tiongkok, Ganjar semakin yakin untuk menggenjot pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah. Karena itu, dia tidak ragu mengalokasikan anggaran besar untuk membangun jalan dan jembatan.
"Selama ini, pembangunan di Jawa Tengah tidak fokus. Karena itu, saya ingin infrastruktur diutamakan. Mau dikritik dewan, yoben," tegasnya.
Di sisi lain, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta Prof Bambang Setiaji menyatakan Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan. Merekalah yang akan membantu pemerintah dalam menyelesaikan problem ekonomi terbesar, yakni pengangguran.
"Jumlah pengangguran terbuka saat ini mencapai 10 juta-11 juta, sedangkan mereka yang pekerjaannya tidak tetap atau butuh pekerjaan yang lebih baik agar kehidupannya meningkat, jumlahnya dua kali lipatnya."
Dalam pembukaan CEO Forum Solo Raya di Auditorium Mohammad Djazman, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Bambang menegaskan Indonesia butuh 30 juta lapangan pekerjaan. Karena itu, peran pengusaha sangat penting.
Untuk memperbanyak pengusaha, pemerintah harus berperan aktif, terutama dalam membuka jalan investasi dan membangun infrastruktur. Ia pun mendukung Pemprov Jateng yang sedang menggencarkan pembangunan jalan dan jembatan melalui program Tahun Infrastruktur. "Terkait infrastruktur, bukan hanya jalan dan jembatan, melainkan juga akses internet. Internet memberi harapan orang-orang yang tak punya aset untuk berbisnis. Pemerintah bisa membantu dengan meringankan biaya internet," harapnya.
UMS juga merangsang minat mahasiswa untuk menjadi pengusaha, dengan membuat kurikulum sekolah pengusaha. "Kami mengundang pengusaha untuk berbagi pengalaman bisnis dan memotivasi mahasiswa," jelasnya. (HT/N-3)