ALOKASI pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tidak mencukupi kebutuhan petani pada musim tanam gadu tahun ini. Kekurangan terbanyak ada pada jenis pupuk organik dan NPK. "Untuk memenuhi kebutuhan petani, kami telah mengajukan tambahan pupuk ke provinsi. Besarnya, untuk pupuk organik sebesar 2.500 ton dan NPK 500 ton," papar Kepala Seksi Sarana dan Prasarana, Dinas Pertanian Klaten, Wahyu Wardana, kemarin.
Berdasarkan SK Gubernur Jateng Nomor 73 Tahun 2015, Kabupaten Klaten mendapat alokasi pupuk organik sebanyak 4.800 ton dan NPK 12.700 ton. Hingga akhir Mei, penyerapan pupuk organik telah mencapai 85% atau 4.082 ton dan NPK 49% atau 6.263 ton. Penyerapan yang tergolong tinggi itu terjadi terkait dengan diterapkannya program gerakan penerapan pengelola tanaman terpadu yang dilaksanakan di tiga kecamatan, yakni Prambanan, Manisrenggo, dan Karangdowo.
Wahyu menambahkan, jenis pupuk lain seperti urea, ZA, dan SP-36 sudah mencukupi kebutuhan petani. Sebagai salah satu lumbung beras di Jawa Tengah, Kabupaten Klaten, dengan luas lahan sawah 33.220 hektare, menargetkan produksi padi pada 2015 sebesar 377.237 ton gabah kering giling. Di sisi lain, serangan hama penggerek batang padi atau sundep menyerang puluhan hektare tanaman padi di Kecamatan Pilang Kenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Akibat serangan itu, sekitar 40% tanaman padi mulai mengering.
"Jika tidak dilakukan penyemprotan obat, dipastikan banyak petani mengalami gagal panen musim tanam kedua 2015 ini," kata Sutikno, 60, petani. Adapun di Kecamatan Matangkuli dan Pirak Timur, Kabupaten Aceh Utara, tanaman padi diserang hama tikus dan penyakit merah daun. Akibatnya, produksi gabah hasil panen menurun drastis.
"Hama sudah menyerang sejak satu bulan terakhir," papar penyuluh swakarsa di Matangkuli, Abdullatif. Dari Banyuwangi, Jawa Timur, dikabarkan, 15 perusahaan perbenihan hortikultura nasional mengikuti Jambore Varietas Melon Unggulan.