TIDAK hanya prasasti yang ditemukan di Lamongan. Ada pula sisa-sisa bangunan candi yang merupakan jejak dari Raja Airlangga, yakni Candi Slumpang di Kecamatan Laren, dan Candi Patakan di pinggiran hutan Desa Patakan, Kecamatan Sambeng.
Berdasarkan hasil ekskavasi antara 2012 dan 2013, sisa bangunan Candi Slumpang yang dapat ditemukan sekitar 14 meter x 14 meter. Pada tepi sisi utara situs ini, struktur batu putih berjarak sekitar 6,5 meter dari pusat sumur candi. Umur situs belum bisa dipastikan karena belum ditemukan prasasti yang memuat angka tahun terkait.
Kronologis situs ini bisa diperkirakan dari bentuk fisik, gaya, dan konteksnya. Berdasarkan letak situs di Kabupaten Lamongan sangat dimungkinkan berasal dari masa Raja Airlangga (1019-1043 M).
Apalagi, banyak temuan prasasti Airlangga berada di kabupaten ini.
Konsep bangunannya menggunakan batu putih dan bata. Pola struktur bata ditemukan hampir semua di sisi luar dan bagian atas reruntuhan. Struktur batu putih diperkirakan pakai fondasi dan batu isian, sedangkan sisi luar dan atas menggunakan bata.
Hal ini didukung dengan temuan beberapa bata yang dihiasi dengan motif sulur-suluran, geometris, dan tumbuhan (kalpataru).
Menurut peneliti dari Balai Pemeliharaan Cagar Budaya Trowulan di Mojokerto, Kuswanto dalam ajaran Hindu konsep Panca Mahabutha meliputi lima unsur kehidupan, yakni unsur tanah atau bumi/zat padat (phrthiwi), unsur air atau zat cair (apah), udara atau angin (bayu), dan angkasa (akosa). "Situs ini ditemukan Mas Supriyo di tengah sawah pada 2009 silam," jelasnya.
Pada tengah bangunan situs ini, kata dia, ditemukan yoni (simbol yang melambangkan prinsip perempuan) sehingga memperkuat dugaan reruntuhan bangunan itu tempat pamujan (tempat ibadah), sedangkan untuk situs Candi Patakan di pinggiran Desa Patakan, Kecamatan Sambeng, diduga dulunya bangunan suci. Hal ini berdasarkan profil dinding yang telah dibuka seperti candi dan ada temuan batu bertakik. Reruntuhan bangunan yang diyakini awalnya candi ini, kondisinya saat ini sebagian besar masih tertimbun material tanah dan sisa bebatuan. Bentuk asli bangunan belum tampak.
Dari jarak yang cukup jauh, bekas reruntuhan itu mirip sekali dengan gundukan tanah dengan tinggi sekitar tiga meter, sedangkan panjang reruntuhan berkisar antara 10 m x 15 m. Pada bagian tengah bangunan terdapat galian yang menyerupai sumur dengan diameter sekitar satu meter dengan kedalaman dua meter.
Ketua Lembaga Studi dan Advokasi untuk Pembaruan Sosial (LSAPS) Lamongan Supriyo mengakui kawasan cagar budaya itu pernah diekskavasi. "Tahun 2010, kita laporkan pada BPCB Trowulan, tiga tahun kemudian kita ekskavasi barsama," terangnya.
Ia menambahkan, bersama sejumlah pegiat cagar budaya, lembaganya juga menemukan situs Slumpang yang hingga saat ini masih dalam proses ekskavasi.
Jarak gundukan satu dengan lainnya sekitar 5 meter -7 meter namun, gundukan lainnya besarannya lebih kecil dari sisa reruntuhan pertama.
Samar-samar pada reruntuhan pertama terlihat ada tatanan batu putih yang mirip anak tangga. Kuswanto menduga jumlah gundukan tanah situs yang lebih dari satu tersebut dimungkinkan suatu kompleks percandian. "Atau mungkin sebuah mandala, simbol mistik penganut Buddha yang melambangkan alam semesta," ujarnya. (YK/N-4)