Jejak Airlangga di Pantura

MI/AHMAD YAKUB
10/6/2015 00:00
Jejak Airlangga di Pantura
()
"APA julukan kita?" tanya seorang panitia saat hendak memberangkatkan lebih dari 100 peserta napak tilas Raja Airlangga di Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Tuban dan Lamongan, Jawa Timur, Minggu (24/5).

"Laskar Airlangga," jawab para peserta sambil beryel-yel untuk menyemangati peserta lainnya.

Setelah mendapat pembekalan, rombongan berjumlah 100 orang dengan berbagai usia, elemen, dan profesi itu diangkut dengan truk terbuka menuju lokasi situs dan cagar budaya di Desa Slaharwotan. Para peserta mayoritas dari Lamongan, Bojonegoro, Gresik, dan Lumajang.

Di sana para peserta harusa berjalan kaki menyusuri jalan setapak penuh dengan semak belukar hingga mendaki bukit untuk menuju lokasi sambil melihat satu per satu prasasti peninggalan Raja Airlangga. Tidak kurang 20 kilometer jarak yang ditempuh Laskar Airlangga, dan beberapa kali harus beristirahat untuk melepas dahaga. Napak tilas jejak Raja Airlangga ke-II di Ngimbang, Lamongan, merupakan yang kedua kalinya. "Tahun lalu kami melaksanakan model touring," kata Agung, salah satu panitia.

Ada tujuh prasasti yang dikunjungi rombongan Laskar Airlangga itu. Seluruhnya berlokasi di Kecamatan Sambeng dan Ngimbang. Namun, kondisi prasasti atau watu gurit itu cukup memprihatinkan. Seperti prasasti Sumbersari II di Kecamatan Sambeng dalam keadaan patah. Tulisan yang ada di dalam prasasti sudah sangat aus sehingga sulit dibaca.

Para peserta juga diajak untuk mengunjungi bekas reruntuhan yang diduga merupakan bangunan suci candi kawasan Hutan Patakkan, Kecamatan Sambeng. Reruntuhan candinya pun diberi nama Candi Patakkan.

Jika dugaan para ahli benar, umur tujuh prasasti dan bangunan suci sekitar 1.000 tahun. Hal ini sesuai dengan data awal berdirinya Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur oleh Airlangga, sekitar tahun 941 Saka atau 1019 Masehi.

Napak tilas selama dua hari itu diselingi seminar dan rembug budaya. Berbagai elemen antusias berdiskusi setelah mengunjungi tujuh prasasti peninggalan Raja Airlangga. Pada umumnya para peserta penasaran dengan jejak Airlangga di pantura Jawa Timur, khususnya Lamongan. "Terus terang kami ingin tahu dan belajar banyak soal sejarah Airlangga di sini," kata Mudzakir, peserta seminar dari Kecamatan Laren.

Selain di Kecamatan Ngimbang, sebaran prasasti peninggalan Airlangga juga menyebar di sejumlah wilayah seputar Jawa Timur. Sebagian besar prasasti Airlangga ditemukan di sekitar Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan. Khusus di Lamongan ini, prasasti Airlangga paling banyak ditemukan terutama di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas. Mulai dari kawasan Ploso, yang sekarang telah masuk ke wilayah Kabupaten Jombang dan Kecamatan Sambeng, Ngimbang, dan Modo, Kabupaten Lamongan.

Selain itu, sebaran situs juga ditemukan disepanjang hilir DAS Sungai Bengawan Solo. Antara lain, di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, dan prasasti Desa/Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Meski demikian, sebaran prasasti peninggalan Raja Kahuripan ini paling banyak tercatat ditemukan di Kabupaten Lamongan.

Prasasti
Peneliti dari Balai Pemeliharaan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan di Mojokerto, Kuswanto mengatakan dari penelitian setidaknya ada 34 prasasti Airlangga di Kabupaten Lamongan. "Dari jumlah itu, 6 prasasti terbuat dari logam dan sisanya 28 prasasti dipahatkan pada batu.

Ke-34 prasasti itu tersebar di Kecamatan Sambeng, Ngimbang, Sugio, Babat, dan Kecamatan Lamongan," kata Kuswanto.

Atas temuan puluhan prasasti itu, Pemkab Lamongan menetapkan 31 prasasti sebagai benda cagar budaya pada awal April 2009. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lamongan, Suwadji mengatakan penetapan benda budaya menjadi benda cagar budaya setelah melalui penelitian dan riset dari Tim Peneliti dan Penilai Cagar Budaya BPPP Mojokerto.

Dengan adanya penetapan ini, lanjut Suwadji, pemerintah maupun pemilik serta pengelola bersama masyarakat mempunyai kewajiban untuk memberikan perlindungan dan pemeliharaan secara rutin.

"Selain itu, pemerintah juga berhak untuk memanfaatkan benda cagar budaya tersebut selama tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku," terang Suwadji.

Benda cagar budaya yang ada di Lamongan tersebar di Kecamatan Ngimbang, Sambeng, Mantup, Babat, Modo, Sugio, Blubuk dan Lamongan. Sebagian besar benda cagar budaya itu berbentuk prasasti. Jumlahnya ada 20 prasasti. Ditambah lima yoni, dua umpak dan masing-masing satu buah tempayan.

Suwadji menambahkan benda-benda cagar budaya ini merupakan warisan peninggalan nenek moyang Lamongan dari berbagai zaman.

Seperti prasasti yang berada di Desa Drujugurit, Ngimbang, terbuat dari batuan kapur diperkirakan berasal dari pemerintahan Raja Airlangga atau setidaknya awal abad XI. Prasasti ini berada di lahan persawahan milik warga setempat, Wito. Sedangkan tempayan berada di halaman Masjid Agung Lamongan. Tempayan yang terbuat dari batu andesit itu memiliki tinggi 42,5 cm dengan diameter 78 cm, dan dasar berbentuk silindris ditanam ke dalam sebuah fondasi.

Sementara itu, genta yang berada di Kantor Dinas Pendidikan Kebudayaan Lamongan --kini Kantor Dinas Kebudayaan Pariwisata--yang terbuat dari bahan perunggu juga dijadikan benda cagar budaya. Genta ini berbentuk silindris, melebar di bagian bawah dengan tepian membentuk dua tingkatan.

Pada genta ini terdapat tulisan mennggunakan aksara Jawa baru yang menjelaskan tentang pembelian genta tersebut pada bulan Zulhijah tahun Jimawal atau 1677. Selain itu ada juga prasasti yang disebut Watu Sabuk. Demikian masyarakat Desa Sumbersari/Sambeng menyebutnya.

Pasalnya, 60 cm di atas dasar prasasti terdapat tonjolan mendatar dengan ukuran lebar 20 cm dan tebal 35 cm mengelilingi batu prasasti. Seakan-akan diikat seperti sabuk. Batu prasasti itu terbuat dari bahan batuan kapur berada di tengah perkebunan dekat waduk di Dusun Sempur.

Meski sudah ada 30 jenis benda budaya yang kini dijadikan sebagai benda cagar budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tetap berusaha mendata semua keberadaan benda-benda warisan budaya di Lamongan.

Jumlahnya pun mencapai puluhan unit. Benda-benda itu sebagian besar berbentuk makam dan prasasti, termasuk makam Mbah Lamong, Mbah Sabilan, dan Mbah Punuk yang setiap tahun selalu menjadi bagian perayaan hari jadi Lamongan. (N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya