Pemkab Klaten Gelar Festival Dalang Anak

MI
09/6/2015 00:00
Pemkab Klaten Gelar Festival Dalang Anak
(MI/DJOKO SARDJONO)
GUNA melestarikan budaya tradisional, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Klaten, Jawa Tengah, menggelar festival dalang anak di Joglo Monumen Juang 1945 Klaten Utara, kemarin.

Festival dalang anak yang diikuti 10 peserta itu, kata Kepala Disbudparpora Joko Wiyono, juga bertujuan mencari bibit sebagai upaya regenerasi. Sehingga, julukan Klaten sebagai gudang dalang dapat dipertahankan.

"Untuk pelestarian seni budaya warisan leluhur ini, kami rutin setiap tahun menggelar festival dalang anak. Bahkan, pernah juga mengadakan festival yang diikuti peserta dari Soloraya dan Daerah Istimewa Yogyakarta," imbuhnya.

Namun, festival kali ini hanya untuk anak-anak lokal Klaten. Jumlah peserta 10 anak dengan usia 9-13 tahun. Para penampil terbaik I, II, III, serta harapan I dan II mendapatkan piala, piagam, dan uang pembinaan.

Di sisi lain, di Dusun Jombor, Desa Danguran, Kabupaten Klaten, Jateng, berjarak kurang lebih satu kilometer dari jalan utama (Yogya-Solo), terdapat Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Dewi Fortuna yang kondang karena 'Omah Wayang'-nya.

Saat menyusuri jalan desa disambut hamparan sawah dan jajaran pohon pelindung yang menjadi ciri khas suasana perdesaan ketika akhirnya disambut sebuah gapura kayu menandai pintu masuk ke kompleks PKBM Dewi Fortuna. Kompleks yang dibangun di atas tanah seluas lebih dari 800 meter tersebut memiliki beberapa bangunan sederhana dan panggung pertunjukan seni budaya.

Di atas tanah tersebut, Kristian Apriyanta mendirikan PKBM Dewi Fortuna Sebagai lembaga satuan pendidikan nonformal berbasis seni dan kewirausahaan bersama seniman Ki R Tmg Suwito Dipuro, SKar, dosen Ki Drs Nuryanto, M Hum sekaligus bersama-sama menggagas Omah Wayang, sebuah pusat studi seni tradisional.

PKBM Dewi Fortuna beralamat di Jalan Arimbi, Jombor, Danguran, Klaten Selatan, kini berkembang menjadi pusat studi budaya, pendidikan keaksaraan, pembuatan wayang, penjualan cinderamata, pelatihan dalang, pelatihan kesenian Kethopak, dan masih banyak kegiatan pendidikan bagi masyarakat.

Kehadiran Dewi Fortuna lama-kelamaan dikenal masyarakat sekitar karena telah menjadi kebutuhan, bahkan banyak warga belajar datang dari kota-kota dan provinsi lain. (JS/N-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya