Petani Mulai Berhemat Air di Musim Kemarau

MI/AKHMAD SAFUAN
04/6/2015 00:00
Petani Mulai Berhemat Air di Musim Kemarau
(Antara/Dhedez Anggara)
INTENSITAS hujan di sejumlah daerah mulai berkurang. Hal itu membuat para petani kesulitan mendapatkan air untuk mengairi lahan pertanian.

Kesulitan mendapatkan air sudah dirasakan para petani di pantura Jawa Tengah. Menyusutnya debit air di bendungan dan hujan yang mulai berkurang membuat petani pasrah memasuki musim tanam gadu. Mereka hanya mengandalkan air dari sumur.

Dari pantauan Media Indonesia, para petani mulai berhemat air. Rapat koordinasi alokasi air telah menyepakati distribusi air irigasi dari Waduk Kedungombo musim tanam II 2014/2015 ditutup 15 Juni mulai pukul 06.00 WIB.

Dengan demikian, 60.095 hektare sawah yang mengandalkan sistem pengairan di Kabupaten Grobogan, Demak, Kudus, Jepara, dan Pati akan terganggu. Petani terpaksa menggunakan air sumur untuk menyirami tanaman. Berkurangnya hujan menyebabkan debit air Bendungan Cepoko di Desa Ujung-Ujung, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, menyusut drastis.

Di Kabupaten Banyumas, masih ada sekitar 40% lahan sawah yang belum memasuki musim tanam. Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (Dispertanbunhut) setempat meminta para petani secepatnya mengolah sawah. Kepala Dispertanbunhut Banyumas Tjutjun Sunarti mengatakan kondisinya akan sangat rawan kekeringan apabila musim tanam melebihi Juni.

"Maksimal Juni ini harus sudah tanam. Jika melebihi Juni, sangat rawan kekeringan," tegasnya.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, Korem 062 Tarumanagara berencana membantu petani dan gabungan kelompok tani untuk memperbaiki saluran irigasi yang masih bermasalah. Pasalnya saat ini produksi padi di wilayah itu merosot terkait dengan rusaknya irigasi dan debit air terus berkurang.

Pada musim tanam gadu tahun ini, para petani di Karangasem, Bali, mengeluhkan dua embung bocor dan rusak sehingga tidak optimal menampung air hujan. Padahal kedua embung yang berlokasi di Dusun Kedampal, Desa Datah dan Desa Bukit itu dibangun tahun lalu dengan biaya Rp8,2 miliar oleh Balai Air Bali Penida.

Ancaman kekeringan juga terjadi di Bengkulu. Sedikitnya 40 dari 50 hektare sawah di Desa Penindaian, Kecamatan Kedurang Hilir, Kabupaten Bengkulu Selatan, rusak akibat irigasi rusak dan keke-ringan. Sebagian wilayah pertanian kini juga beralih fungsi menjadi kebun sawit dan karet.

Serangan hama
Di saat harga beras tinggi, justru harga gabah di Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, anjlok. Menurut sejumlah petani, merosotnya harga gabah karena adanya serangan hama sehingga banyak gabah yang tidak berisi.

Serangan hama juga terjadi pada sejumlah lahan pertanian di Desa Bojongkalong dan Desa Neglasari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Serangan hama wereng cokelat menyebabkan tanaman padi mati karena kondisinya mengering.

Sementara itu, menjelang Ramadan, Bulog mempercepat pengiriman beras untuk warga miskin (raskin). Namun, banyak ditemukan raskin yang bau apek dan rusak.

Seperti di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmig-rasi setempat menolak raskin yang diterima warganya karena tidak layak dikonsumsi. Pemprov Jawa Timur pun membuka kotak pengaduan terkait dengan kualitas raskin yang diterima warga.

Adapun di Temanggung, Jawa Tengah, menjelang Ramadan penyaluran raskin dipercepat. Jadwal penyaluran raskin dari Juli menjadi awal dan akhir Juni. Untuk penyaluran raskin pada Agustus dimajukan menjadi Juli. (Tim/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya