MEMASUKI musim kemarau, sejumlah daerah mulai siaga kekeringan. Pasokan air untuk areal persawahan pun sudah mulai diperoleh karena debit air terus berkurang.
Seperti yang terjadi di Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang, Jawa Barat, sekitar 987 hektare sawah terancam gagal panen karena kekeringan. Ketiadaan pasokan air menyebabkan tanah persawahan mulai retak-retak. Tanaman padi pun mengering.
Penyebab kekeringan selain tidak ada hujan, juga karena tidak mengalirnya air dari Bendungan Cinangka yang jebol beberapa waktu lalu.
"Pasokan air tidak ada sehingga menyebabkan tanaman padi terancam puso," kata Agus, petani di Kecamatan Pagaden Barat, kemarin.
Area yang dilanda kekeringan itu tersebar di tujuh desa, di antaranya Desa Gambarsari, Sumbersari, Margaluyu, Bendungan, Pansor, dan Cidadap.
Di Tasikmalaya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat memperkirakan awal musim kemarau di Indonesia berlangsung pada Juni ini. Para petani harus mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau, dengan memikirkan pasokan air dari irigasi.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kota Tasikmalaya, Nung Nurteti, mengatakan sebagian besar areal persawahan di wilayahnya merupakan sawah tadah hujan.
"Di samping itu, saluran irigasi di Kota Tasikmalaya masih menjadi permasalahan utama para petani. Saat petani lain bisa memanen padi sebanyak tiga kali dalam setahun, hal itu tidak terpenuhi di Tasikmalaya karena kekeringan. Produksi padinya sedikit," ujar Nung.
Wilayah pertanian yang rawan kekeringan berada di kawasan Tamansari, Kawalu, dan Cibereum. Ketua Asosiasi Gapoktan Kota Tasikmalaya, Yuyun Suyud, menambahkan, ketika memasuki musim kemarau, tiga wilayah itu selalu kesulitan air.
"Itu sudah lama terjadi. Petani sulit membenahi karena harus izin ke Balai Besar Wilayah Sungai Kota Banjar," ujarnya.
Di Indramayu, agar seluruh petani mendapatkan air, pemkab memberlakukan jadwal giliran pembagian air musim tanam gadu. Adanya jadwal giliran pembagian air karena debit air terus menurun dari Bendung Rentang.
"Jadwal gilir giring air mulai diberlakukan 1 Juni kemarin," kata Kabid Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Pertambangan, dan E-nergi (PSDA Tamben) Kabupaten Indramayu, Karto.
Pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cilacap, Jawa Tengah, telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan. Pemetaan itu dilakukan berdasarkan prakiraan BMKG Cilacap. Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap, Supriyanto, mengungkapkan ada 77 desa yang tersebar di 13 kecamatan rawan kekeringan.
"BPBD mulai berkonsentrasi untuk menyiapkan berbagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya krisis air bersih," jelas Supriyanto.
Salah satu desa yang paling rawan kekeringan ialah Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten. "Desa tersebut merupakan salah satu indikator. Ini berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya."
Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Majenang, Cilacap, juga melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah yang rawan krisis air. "Setidaknya ada empat desa yang kesulitan air, di antaranya Desa Pohanjean, Desa Padangjaya, dan Desa Jenang. Kami akan meng-antisipasi terutama nanti saat memasuki Ramadan," kata Kepala Cabang PDAM Majenang, Agung Yulianto. (AD/UL/LD/N-4)