Indonesia Network Election Survey (INES) merilis hasil survei terhadap opini publik terkait para tokoh yang kemungkinan akan maju dalam pertarungan Wali kota Dumai, Provinsi Riau. Survei dilakukan, untuk mengukur seberapa banyak pemilih yang mengenai kandidat. "Berapa banyak pemilih yang tidak mengenal, dan bagaimana karakteristik mereka. Termasuk, wilayah , jenis kelamin, pendidikan, suku, agama, pendapatan dan sebagainya. Bagaimana perbandingan popularitas kandidat dibandingkan dengan kandidat lain. Seberapa mungkin popularitas kandidat bisa ditingkatkan, dan sebagainya," ujar Ir. Widodo Tri Sektianto, Direktur Eksekutive INES dalam rilisnya,
Dijelaskan dari hasil survei yang dilakukan, pertimbangan masyarakat Dumai, tertinggi dalam menentukan calon dalam pemilihan Wali Kota adalah track record atau jejak rekam para calon, kemampuan, kompetensi calon, pengalaman calon, pasangan, latar belakang profesi, popularitas, serta dukungan dari para tokoh agama. "Survei dilakukan melalui metodelogi multistage random sampling. Dilakukan terhadap 1200 responden dari tujuh kecamatan, serta 33 kelurahan di Kota Dumai," jelasnya.
Jumlah populasi Kota Dumai didasarkan pada daftar pemilih Tetap saat Pilpres 2014 adalah, sebanyak 200.807 jiwa. Wawancara dilakukan dengan tatap muka kepada responden menggunakan kuesioner yang datanya dilakukan dalam kurun waktu 10 hingga 20 Mei 2015. Dari Temuan Hasil survei 1200 responden masyarakat Kota Dumai popularitas Wakil Wali Kota incumbent Agus Widayat, dianggap tokoh yang memliki popularitas tertinggi diantara para kandidat Wali Kota dengan tingkat popularitas perolehan 25,4 persen. Disusul Wali Kota Khairul Anwar dengan 15,4 persen persen," Tri menjelaskan.
Tokoh lain, politis PDI Perjuangan Tito Gito dengan 14,6 persen, sedangkan Sunaryo yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua DPRD dari partai PAN dan mantan wakil Wali Kota Dumai periode 2005-2010 memiliki tingkat popularitas 11,3 persen. Tokoh lainnya, Zulkifli AS mantan Wali Kota Dumai dengan raihan 8,2 persen, serta Nurdin Budin yang aktivis buruh dan juga menjabat sekertaris DPC Gerindra memiliki tingkat popularitas sebesar 6,1 persen. Muhamad Ikhsan yang merupakan Kader PKS dan juga akademisi Universitas Riau hanya memiliki popularitas sebanyak 5,3 persen, Eko Suharjo yang merupakan Kader partai Demokrat memiliki tingkat popularitas 4,3 persen sedangkan Wan Syamsir Yus mantan Wali Kota Dumai Perode 2000-2005 dan mantan sekda prov Riau hanya memiliki tingkat popularitas 3,2 persen," ungkap Tri.
Ditegaskan, Tingginya Popularitas Itu Walikota Dan Wakil Walikota Incumbent Kota Dumai Khairul Anwar Tidak Terlepas Dari Kedudukannya Selaku Incumbent Dari temua survei tergambar masyarakat Kota Dumai menginginkan Wali Kota yang akan datang adalah tokoh yang memiliki track rekord atau rekam jejak yang baik dan bersih dari kasus kasus korupsi serta memilikikualitas dan kapabilitas serta pengalaman untuk memimpin pemkot Dumai. Sekitar 61,05 persen masyarakat Kota Dumai menganggap politik uang adalah hal yang biasa
"Hasil survey ini menunjukkan kejujuran, bersih dari KKN, peduli terhada warga serta tegas harus dikemas sedemikian rupa dan dijadikan jargon dan posisitioning statement dari program yang akan diusung pada berbagai kegiatan," Tri menegaskan. Dalam memilih calon Wali Kota Dumai, sambung Tri, selain harus melewati banyak pertimbangan yang baik seperti pendidikannya, popularitasnya, pengalamannya di bidang politik dan pemerintahan, ketaatan dalam beribadah, dukungan tokoh agama, dan penguasaan bahasa daerah juga harus memperhatikan konsep tentang pemimpin.