Pilihan Mengabdi di Puncak Jaya

MI
25/5/2015 00:00
Pilihan Mengabdi di Puncak Jaya
Mensesneg Pratikno berjabat tangan dengan Mendikbud Anies Baswedan saat bertemu dalam acara Pelepasan Guru Penggerak Daerah Terpencil di Papua di halaman Gedung Pusat UGM, Minggu (24/5)(MI/ARDI)
TEKAD Bayu Adiwena Mustika, 27, telah bulat. Ia selama dua tahun akan mengabdikan diri menjadi guru di Kabupaten Puncak Jaya, Papua, selama dua tahun.

"Ini semua untuk pengabdian," terang lulusan Pendidikan Geografi di Universitas Negeri Malang di Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, kemarin.

Lelaki yang telah berkeluarga dan memiliki anak itu siap jauh dari istri dan anak. Ia pun bertekad akan mengajar dengan baik dan bisa membawa kemajuan bagi anak-anak di Kabupaten Puncak Jaya.

"Istri saya juga seorang guru di Blitar," terang dia. Ia mengatakan istrinya pun telah paham dengan pilihan pengabdian di Papua yang menjadi keinginannya.

Tekad bulat untuk mengabdi di Puncak Jaya juga terlontar dari Ayu Melinda, 22. Mahasiswi IKIP PGRI tersebut mengaku tertarik saat melihat di internet rekrutmen guru untuk di Kabupaten Puncak Jaya.

"Saat melihat lowongan di internet, saya ingin bertemu dengan anak- anak di sana," kata dia.

Bayu Adiwena Mustika dan Ayu Melinda ialah dua dari 64 guru penggerak yang akan diberangkatkan UGM ke Kabupaten Puncak Jaya. Mereka berasal dari berbagai universitas yang telah diseleksi dan diberi pelatihan.

Pelepasan tersebut juga dihadiri Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, dan Rektor UGM Dwikorita Karnawati.

Bupati Puncak Willem Wandik berharap 64 guru itu bisa membantu para siswa agar lebih semangat belajar. "Guru sangat penting untuk mendidik anak-anak. Kalau tidak ada guru, anak-anak tidak bisa belajar," kata dia.

Anies Baswedan mengatakan kegiatan mengirim guru itu meneruskan tradisi UGM saat zaman almarhum Koesnadi Hadjasoemantri pada 1952. Saat itu Koesnadi muda ke Nusa Tenggara Timur untuk mengajar. "Jangan dianggap ini pengorbanan, tetapi kehormatan. Setiap pendidik ialah pemimpin yang kata-katanya didengar dan sukarela diikuti. (AT/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya