SEDIKITNYA 5.800 hektare sawah yang tersebar di 12 desa di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terancam kekeringan.
Camat Kandanghaur Dudung Indra Ariska menjelaskan dari 13 desa di kecamatan yang dipimpinnya, hanya satu desa yang sawahnya tidak terancam kekeringan. "Hanya Desa Kertawinangun yang aman dari ancaman kekeringan," kata Dudung, kemarin.
Tanaman padi yang terancam kekeringan tersebut berumur antara 10 hari dan 15 hari. Ancaman kekeringan tersebut, lanjut Dudung, disebabkan semakin minimnya pasokan air dari Bendungan Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta. "Kalau pasokan air tidak datang dalam seminggu ke depan, ancaman kekeringan bisa menjadi nyata," kata Dudung.
Jika kekeringan benar-benar terjadi, potensi kerugian yang dialami petani di wilayahnya bisa mencapai Rp3 miliar. Itu disebabkan tingginya modal tanam yang harus dikeluarkan di musim tanam gadu.
Selanjutnya untuk menyelamatkan tanaman padi di wilayahnya, Dudung berharap bisa mendapatkan pasokan air dari Bendung Rentang yang terletak di Kabupaten Majalengka. "Kalau mengharapkan air dari Bendung Jatiluhur susah," katanya. Karena itu, pihaknya dalam waktu dekat akan membahas masalah tersebut bersama Pemkab Indramayu.
Ancaman kekeringan itu juga dibenarkan Kuwu Desa Curug, Kecamatan Kandanghaur, Carlim. Luas lahan yang terancam kekeringan mencapai 485 hektare. "Petani saat ini sangat resah. Mereka sulit memperoleh pasokan air. Apalagi hujan sudah jarang turun," katanya.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Takmid, mengungkapkan ancaman kekeringan terjadi karena mundurnya masa tanam. Waktu masa tanam musim rendeng semestinya November 2014 lalu mundur menjadi Desember 2014 atau Januari 2015. Itu membuat mundurnya panen musim rendeng dan musim tanam gadu 2015.
Di Sukabumi, debit air saluran pengairan untuk area persawahan di wilayah selatan mulai berkurang. Petani yang menaman padi dilanda kecemasan ancaman gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sukabumi Sudrajat tidak memungkiri jika sebagian besar lahan sawah di wilayah selatan merupakan tadah hujan. Luasnya diperkirakan sekitar 30% dari wilayah lahan yang mencapai 64.007 hektare.
Di bagian lain, petani di Jawa Tengah bagian selatan seperti di Banyumas, Cilacap, dan Kebumen diimbau agar segera menanam padi di area sawah agar tidak dilanda kekeringan. Pasalnya, berdasarkan prakiraan Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap, wilayah Jateng selatan saat ini telah memasuki musim kemarau. (BB/LD/N-2)