TIM SAR gabungan sudah menemukan tubuh Erri Yunanto, pendaki yang terpeleset di kawah Gunung Merapi.
Namun, upaya membawa tubuh korban ke atas dihentikan di tengah perjalanan karena sudah malam.
"Tim sudah menemukan, menyentuh, dan berusaha mengangkat tubuh korban. Proses evakuasi dihentikan di tengah perjalanan atau sekitar 50 meter dari dasar kawah," papar Tri Atmojo, Plh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, tadi malam.
Komandan SAR Yogyakarta Brotoseno memastikan korban sudah meninggal dunia.
"Tubuh Erri sudah tidak bergerak saat tim mengangkatnya dari dalam kawah."
Erri Yunanto terjatuh ke dalam kawah Merapi saat berfoto di bibir kawah, Sabtu (16/5).
Mahasiswa Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, itu mendaki bersama lima rekannya.
Kemarin, Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono, menyatakan keheranannya karena ada pendaki yang bisa sampai ke puncak Merapi.
"Seharusnya, pendaki hanya diizinkan sampai ke Pasar Bubrah, tidak sampai ke puncak. Jalur pendakian dari Pasar Bubrah hingga ke puncak merupakan kawasan yang berbahaya karena banyak batuan yang mudah lepas."
Ia menambahkan, faktor lain yang membahayakan pendaki ialah adanya asap yang terlalu tinggi di sekitar kawah.
Batuan lepas dari letusan pada 2010 juga mengancam dan berbahaya karena belum stabil.
Dengan adanya pendaki yang terpeleset ke kawah, ia berharap kasus serupa tidak terulang.
"Semua pendaki harus mengikuti rekomendasi kami. Pendakian hanya boleh sampai Pasar Bubrah agar tidak ada insiden seperti ini," tandas Surono.
Lebih jauh, dia juga mengingatkan agar tim SAR dan relawan tetap memperhatikan keselamatan diri saat menolong.
"Gunakan masker full yang menutup muka."
Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi itu juga meminta tim memperhatikan suhu di titik jatuh karena temperatur di atas 200 derajat celsius sangat berbahaya.
Selain itu, evakuasi hanya boleh dilakukan jika ada cahaya matahari yang menyinari kawah.
Sinar matahari berguna untuk membantu penolong memantau keseluruhan kawah dan dapat mempercepat pemuaian gas-gas berbahaya.
"Tidak hanya gas beracun yang bisa mengganggu proses evakuasi. Tanah material vulkanis di puncak dan sekeliling kawah juga merupakan tanah labil, mudah runtuh, dan longsor," tegasnya.
Di sisi lain, Wakil Rektor III Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Sigit
Widiarto, menyatakan kampus memberikan dukungan evakuasi.
"Korban bukan anggota Mapala, tapi kami tetap bergerak mengirim tim."