SEUSAI menyampaikan Sabda Raja, Kamis (30/4), Sri Sultan Hamengku Bawono X mengeluarkan Dhawuh Raja pada Selasa (5/5). Dalam Dhawuh Raja, Sultan menetapkan nama baru bagi putri sulungnya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgenging Mataram. Setelah itu, GKR Mangkubumi diperintah Sultan untuk duduk di Watu Gilang yang merupakan batu singgasana pendiri Kesultanan Mataram, Panembahan Senopati saat menjadi putra mahkota. Prosesi tersebut dianggap sebagai 'pengu kuhan' GKR Mangkubumi sebagai penerus takhta Keraton Yogyakarta.
Hal itu pula yang ditentang adik-adik Sultan. Mereka menilai, Sultan telah menyim pang dari paugeran dan penunjukan GKR Mangkubumi sebagai putri mahkota dikhawatirkan nantinya akan menyudahi garis keturunan Hamengku Buwono yang sudah ratusan tahun terjaga. Seusai penjelasan Sultan tentang Sabda Raja dan Dhawuh Raja di Ndalem Wirone ga ran, Jumat (8/5), GKR Mangkubumi pun menjelaskan persoalan-persoalan tersebut kepada sejumlah wartawan, termasuk Media Indonesia. Berikut petikan perbincangannya.
Bagaimana kesan Anda dengan menyandang nama baru GKR Mangkubumi? Tentunya dengan nama baru, beban di pundak saya akan bertambah. Nama Mangkubumi bisa dibilang cukup berat. Tanggung jawab serta tugas di keraton juga akan semakin berat. Yang penting ketulusan saya, tulus ikhlas untuk nyengkuyung kuncaraning (mendukung pamor) Mataram. Adakah tugas baru dengan nama baru? Tugas barunya belum disampaikan (Sultan). Saya masih menyesuaikan. Organisasi di dalam keraton tidak berubah. Tugas saya masih seperti sebelumnya, yaitu di departemen bersama GBPH Yudhaningrat untuk nguri uri kabudayan (melestarikan kebudayaan), mengurusi patilasan, mengurusi tarian, dan lain sebagainya. Saya juga masih membutuhkan romo-romo (orang tua), rayi-rayi bapak (adik-adik Sultan) untuk mengajari kami semua, saya dan adik-adik. Saya masih sangat muda. Saya baru saja masuk dalam organisasi keraton. Saya membutuhkan romo-romo untuk membimbing kami. Sabda dan Dhawuh Sultan menimbulkan pro dan kontra termasuk penolakan dari adik-adik Sultan.
Bagaimana dengan sikap Anda terhadap keluarga keraton yang menolak Dhawuh Raja? Kalau saya sih silakan saja karena pro dan kontra pasti ada. Saya hanya melaksanakan dhawuh (perintah) yang di-dhawuhkan Gusti Allah melalui Ngersa Dalem (Sultan). Saya memegang amanah itu, dhawuh dari Gusti Allah melalui Ngersa Dalem.
Bagaimana langkah ke depan untuk menya tukan keluarga keraton yang beda pandangan? Silakan saja (berbeda pendapat). Untuk mempersatukan itu kakaknya, Ngersa Dalem (Sultan). Saya tetap hormat kepada beliau-beliau karena tetap om-om saya dan adik-adiknya bapak saya. Bagi saya dan adik-adik, kami tetap membutuhkan romo-romo untuk membantu kami dalam belajar nguri-uri kabudayan yang ada di dalam keraton.