MONARKI ialah sistem pemerintahan atau sejenis pemerintahan tertua yang ada di muka bumi ini dan sampai sekarang masih diterap kan di beberapa negara tertentu. Dalam bahasa Inggris, monarki berasal dari kata monarch, yaitu raja. Secara singkat sistem pemerintahan monarki ialah kekuasaan politik di tangan raja atau ratu sebagai pemegang kekuasaan dominan negara. Jauh sebelum negara Indonesia terbentuk, di beberapa wilayah Nusantara juga berdiri kerajaankerajaan. Mereka pun menganut sistem pemerintahan semacam ini. Meski kini sistem pemerintahan negara berbentuk republik, konsep monarki masih diaplikasi di beberapa kerajaan/kesultanan seperti Surakarta, Cirebon, dan Yogyakarta.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah bahkan memberi kewenangan dalam urusan keistimewaan sebagai daerah otonom, termasuk kewenangan dalam urusan Pemerintahan Daerah DIY. Berdasarkan UU itu, Sultan otomatis menjabat kedudukan sebagai gubernur. Dalam konsep kekuasaan Jawa, raja tidak hanya dianggap sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi juga pemimpin agama, anutan, dan pelindung umat dalam menjalankan kehidupan rohani. Raja/sultan juga punya wewenang mutlak dalam hal suksesi menentukan siapa penerus atau penggantinya.
Umumnya, raja ialah laki-laki. “Jadi tidak ada sebutan sultanah atau sultan perempuan. Sultan itu harus laki-laki,†kata Pangeran Raja Adipati (PRA), Arief Natadiningrat, yang menjabat Sultan Sepuh XI Kesultanan Cirebon kepada Media Indonesia belum lama ini. Namun, seperti halnya dinamika politik di era modern, proses suksesi di lingkup kerajaan tidak selalu berlangsung mulus. Di Yog yakarta, Sabda Raja yang dikeluarkan Sultan Hamengku Bawono X belum lama ini menuai polemik lantaran diduga terkait suksesi guna memuluskan putrinya sebagai ahli waris.
"Suksesi ini harus disikapi positif. Pastilah Sultan menginginkan yang terbaik untuk rakyatnya," ujar sejarawan Taufi k Abdulah. Taufi k menilai suksesi sebagai hal yang lumrah. Bahkan, di beberapa wilayah diwarnai kudeta, seperti di Kesultanan Banjar di masa lampau. "Raja Banjar di zaman dahulu juga pernah dikudeta pamannya. Untuk itulah, dia meminta bantuan ke Kera jaan Demak sehingga selamatlah Kerajaan Banjar," kisahnya. Menurut Taufi k, suksesi itu penting karena untuk menyelamatkan suatu kerajaan. Terutama, takhta kepemimpinan. "Saat Sultan Iskan dar Muda berkuasa di Aceh, juga pernah terjadi pengangkatan anak perempuannya menjadi pengganti sultan," jelasnya.