PLTN Harapan Baru Rakyat Kaltim

Syahrul Karim
30/4/2015 00:00
PLTN Harapan Baru Rakyat Kaltim
(DOKMI)
TEKAD Awang Faroek Ishak sudah tidak terbendung.

Ia telanjur jatuh cinta pada Talisayan, sebuah kecamatan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

"Talisayan akan menjadi tapak bagi pembangkit listrik tenaga nuklir di Kalimantan Timur. Studi tapak tengah dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional dan PT Industri Nuklir Indonesia," tutur Gubernur Kalimantan Timur itu.

Talisayan dipilih karena dianggap paling aman dari bencana alam, terutama gempa.

"Semuanya mendukung, baik masyarakat Kaltim, Batan, dan Kemenristek. Kami tinggal melaporkannya ke Presiden," lanjut Awang.

Pada awalnya, PLTN di Talisayan, Berau, akan dibangun dengan kapasitas 50 megawatt.

Dalam beberapa waktu kemudian, dia akan dikembangkan menjadi 1.000 megawatt.

Pembangunan ini murni menggandeng pihak swasta. Tidak ada campur tangan pemerintah untuk membiayai pembangunan pembangkit energi listrik tersebut, baik berasal dari APBD Kaltim maupun APBN.

Sejumlah negara telah menyatakan keinginannya ikut andil dalam proyek itu, di antaranya Prancis, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

Namun, hingga saat ini baru investor dari Tiongkok yakni General Nuclear Power Group (CGN) yang telah melakukan presentasi di Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Perusahaan ini telah membangun 11 PLTN dan sedang membangun 14 PLTN baru.

Mereka menargetkan hingga 2030 akan memiliki 100 PLTN.

Bebas gempa
Sudah puluhan tahun sumber energi di Kalimantan Timur dikuras untuk kemaslahatan negeri ini, mulai gas dan minyak hingga batu bara.

Sayangnya, kekayaan itu tidak membuat kebutuhan rakyat Kalimantan Timur akan energi yang murah bisa terpenuhi.

Bahkan, untuk listrik sekalipun, mereka masih harus sering merasakan kondisi biarpet karena kekurangan pasokan.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, rakyat dan pemerintah Kaltim mulai menyadari bahwa kekayaan energi, baik gas, minyak, maupun batu bara akan habis karena terus dieksploitasi.

Karena itu, tuntutan untuk mewujudkan adanya pembangkit listrik tenaga nuklir terus mengemuka.

Pemilihan PLTN sebagai sumber energi masa depan di Kaltim berdasarkan pertimbangan bahwa wilayah ini sangat ideal karena bebas dari ancaman gempa.

Karena itu, risiko terjadinya kebocoran radio aktif dari reaktor nuklir yang dikhawatirkan banyak pihak sangat minim.

Berbagai studi telah dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk memastikan dan meyakinkan kepada seluruh elemen masyarakat terutama pegiat lingkungan agar membuka hati dan menyadari bahwa pembangunan ini untuk kemaslahatan, supaya warga Indonesia menikmati energi listrik tanpa mengenal padam.

"Dukungan Kaltim untuk membangun PLTN terus mengalir, mulai tingkatan bawah hingga pengambil keputusan. Masyarakat Kaltim, Batan, hingga Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyetujui pembangunan tersebut," tuturnya.

Awang yakin dampak buruk yang ditimbulkan PLTN sangat minim terjadi.

Sejumlah negara yang memiliki PLTN seperti Prancis, Jepang, dan Amerika Serikat tetap aman.

Kejadian di PLTN Chernobyl, Rusia, yang meledak pada 1986 terjadi karena kesalahan manusia alias human error.

Adapun kebocoran di PLTN Fukushima, Jepang, pada 2011 diakibatkan oleh bencana alam gempa bumi.

"Saya sudah melihat langsung ke sejumlah negara yang memiliki PLTN. Saya juga termasuk anggota DPR yang menangani ketenaganukliran sehingga tahu persis kebaikan dan keburukan PLTN," paparnya.

PLTN yang dibangun di daerahnya, tambah Awang, tidak hanya membawa manfaat bagi warga Kaltim dan Kalimantan, tetapi juga untuk seluruh daerah di Indonesia.

Bahkan energi yang dihasilkan dari PLTN ini dapat dijual ke Serawak dan Sabah, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Timur.

Apalagi ketersediaan sumber daya alam di Kaltim pada sektor energi, yakni gas, minyak, dan batu bara terus menipis dan hanya bisa dinikmati hingga beberapa tahun ke depan.

"Sekali lagi, kalau Presiden Joko widodo merustui pembangunan ini, maka pada 2016 pembangunan PLTN bisa dimulai," harapnya.

Dukungan DPRD
Keinginan Pemprov Kaltim membangun PLTN di Talisayan mendapat dukungan dari DPRD Kalimantan Timur.

Seperti diungkapkan ketuanya HM Syahrun HS, nuklir adalah alternatif energi di masa mendatang untuk memenuhi pasokan listrik.

Pengembangan sumber-sumber energi alternatif di Kalimantan Timur, termasuk dari nuklir, menjadi bagian dari upaya penyelamatan sumber daya alam Kaltim, seperti minyak, gas, dan batu bara agar masih dapat dinikmati generasi penerus, bukan sekadar sejarah belaka.

"Pemikiran Gubernur Awang Farouk membangun PLTN di Kaltim adalah gagasan yang visioner. Fakta saat ini, meski menjadi lumbung energi nasional, daerah ini masih dihadapkan pada kondisi defisit listrik," tuturnya.

Hampir seluruh kabupaten dan kota selalu mengalami biarpet listrik.

Tidak terkecuali empat kota yang dilayani jaringan interkoneksi Sistem Mahakam, yakni Samarinda, Balikpapan, Tenggarong (Kutai Kartanegara), dan Bontang.

Syahrun mengakui membangun PLTN bukan perkara mudah.

Sejumlah daerah yang mengaku siap, yakni Jepara, Jawa Tengah, dan Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung, masih dihadapkan pada penolakan sejumlah kalangan, juga perizinan dari pemerintah pusat.

Di Jepara, penolakan terjadi akibat kekhawatiran setelah reaktor nuklir Chernobyl meledak dan kebocoran di PLTN Fukushima.

Adapun di Bangka Belitung, kendalanya terkait soal rencana tata ruang wilayah (RTRW) provinsi dan nasional, yang belum memasukkan peruntukan lokasi PLTN.

"Kami akan terus mendukung gagasan gubernur membangun PLTN di Kaltim. Tentunya disertai dengan kajian mendalam, perencanaan yang matang, dan sosialisasi yang terus-menerus kepada masyarakat," lanjutnya.

Syahrun yakin teknologi nuklir sangat efisien untuk menggantikan sumber energi yang tidak terbarukan.

Satu kilogram uranium setara dengan 1.000-3.000 ton batu bara atau 160 truk tangki minyak solar yang berkapasitas 6.500 liter.

Apalagi, penerapan teknologi nuklir di Indonesia juga sudah disiapkan cukup lama, di antaranya pengembangan reaktor nuklir untuk riset di Jalan Tamansari, Kota Bandung, sejak 1964.

Reaktor kecil itu mampu menghasilkan listrik 2.500 Kwh.

Begitu juga di Yogyakarta dan Serpong, Tangerang.

"Sambil menanti putusan soal PLTN yang masih berproses, pemprov dan kalangan swasta juga harus mengembangan sumber energi baru terbarukan lain bagi masyarakat Kaltim, seperti air, panas bumi, biomassa, dan sinar matahari," harapnya. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya