Menggenjot Perikanan Budi Daya

MI
29/4/2015 00:00
Menggenjot Perikanan Budi Daya
(MI/PALCE AMALO)
DINAS Kelautan dan Perikanan (DKP) Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai melirik perikanan budi daya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong peningkatan perekonomian daerah.

Kepala Bidang Perikanan Budi Daya, Pesisir, dan Pulau Kecil DKP NTT Sulastri Rasyid mengatakan sudah saatnya perikanan budi daya dijadikan andalan. "Saya yakin ada saatnya perikanan tangkap akan punah karena penangkapan ikan yang tiada henti," ujarnya di Kupang, Jumat (17/4).

Menjadikan perikanan budi daya sebagai andalan bukan tanpa alasan. Sebanyak seperempat dari lima juta penduduk NTT bermukim di pesisir pantai. Namun, sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai petani di ladang dan sawah.

Saat kemarau banyak areal persawahan yang mengandalkan air hujan tidak diolah. Belum lagi ditambah kemarau panjang yang berdampak menyusutnya debit sumber air.

Paceklik tidak hanya dikenal di sektor pertanian. Subsektor perikanan tangkap juga mengalami hal yang sama. Jika seperti itu, harga ikan bakal melonjak dan mendorong masuknya ikan dari perikanan

Budi daya sampai merajai pasar dengan harga tinggi. Menurut Sulastri, jika perikanan budi daya tumbuh subur di masyarakat, krisis ikan tidak akan muncul dan harganya pun tetap stabil.

Di sisi lain, produksi perikanan tangkap mengalami pasang surut. Sesuai dengan catatan DKP NTT sampai 2012, produksi perikanan tangkap ketika itu hanya 66.055 ton, turun jika dibandingkan dengan produksi pada 2011 berjumlah 102.137 ton.

Produksi pada 2010 berjumlah 90.185 ton, menurun jika dibandingkan dengan 2009 sebanyak 117.190 ton.

Produksi perikanan tangkap di NTT didominasi 29 jenis ikan, antara lain kerapu, kakap, tuna, kembung, cakalang, tembang, teri, kuwe, tongkol, lemuru, dan biji nangka.

Lain halnya produksi perikanan budi daya. Menurut catatan DKP selama dua tahun terakhir, itu mengalami peningkatan signifikan meliputi ikan mas, lele, karper, dan nila. Produksi pada 2013 tercatat 1,2 juta ton dan meningkat menjadi 1,8 juta ton pada 2014. Adapun nilai produksi perikanan budi daya selama 2013, misalnya, mencapai Rp5,8 miliar terdiri dari tambak sebesar 53,2 juta, kolam Rp42,9 juta, laut Rp5,7 miliar, sawah Rp904 ribu.

DKP juga mengajak masyarakat memanfaatkan halaman rumah mereka dengan membangun kolam ikan yang hasilnya dijual untuk menambah pendapatan dan memenuhi gizi keluarga. Jika masyarakat mulai perkotaan sampai perdesaan membudidayakan ikan secara mandiri, itu bakal mendatangkan banyak keuntungan seperti populasi ikan di laut tetap terjaga.

Apalagi saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah mendorong perikanan budi daya sebagai fokus pembangunan kelautan dan perikanan.

Kebijakan itu meliputi penguatan sarana dan prasaran perikanan budi daya yang berbasis pada kemampuan domestik, peningkatan penerapan bisnis, dan teknologi budi daya yang efisien agar mampu bersaing di pasar.

"Teknologi budi daya yang dikembangkan harus ramah lingkungan," tambahnya. (PO/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya