Doni Minta Warga Kalsel yang Ikut Tablig di Gowa Melaporkan Diri

Mediaindonesia.com
07/6/2020 15:00
Doni Minta Warga Kalsel yang Ikut Tablig di Gowa Melaporkan Diri
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo(ANTARA )

KETUA Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo meminta warga Kalimantan Selatan yang sempat hendak mengikuti tabliq akbar di Gowa, Sulawesi Selatan untuk melaporkan diri. Kesadaran untuk memeriksakan diri merupakan kunci untuk mencegah penularan Covid-19 di Kalsel.

Doni menyampaikan permintaan tersebut saat mengunjungi Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit di Banjarbaru, Minggu (7/6). Bersama Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhajir Effendi dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Ketua Gugus Tugas diminta Presiden Joko Widodo untuk mensupervisi penanganan covid-19 di Jawa Timur, Kalsel, dan Sulsel.

Baca juga: 10.792 Pekerja Migran Indonesia Sudah Pulang dari Wisma Atlet

“Saya mendapat laporan dari Kepala Dinas Kesehatan Kalsel bahwa ada sekitar 2 ribu warga Kalsel yang sempat datang ke acara tabliq akbar di Gowa. Namun sekarang baru sekitar 900 warga yang melapor dan memeriksakan diri,” jelas Doni.

Kesadaran untuk memeriksakan diri sangat penting agar penularan bisa dicegah. Dengan memeriksakan diri, kalau memang positif maka bisa melakukan isolasi mandiri atau menjalani karantina mandiri. Sebaliknya, kalau tidak memeriksakan diri dan ternyata positif, maka ia akan bisa menulari orang yang ada di sekitarnya dan juga membahayakan jiwa orang lain.

“Jumlah warga yang terpapar Covid-19 di Kalsel angkanya terus meningkat. Di sinilah diperlukan kesadaran untuk peduli kepada saudara-saudara kita,” ujar Ketua Gugus Tugas.

Doni percaya, masyarakat Kalsel mempunyai kearifan lokal untuk bisa menekan angka penularan Covid-19. Kunci keberhasilan di beberapa daerah dalam menekan penularan Covid-19 terletak pada kemauan untuk menerapkan disiplin, menjalankan kolaborasi pentahelix berbasis komunitas, memanfaatkan kearifan lokal, dan militansi dari petugas medis untuk melakukan testing kepada warga yang diduga terpapar Covid-19.

Menko PMK Muhajir Effendi mengatakan, pemerintah pusat akan terus mendampingi, melakukan monitoring dan evaluasi untuk membantu Pemerintah Provinsi Kalsel mengendalikan penyebaran covid-19. Semua berupaya untuk secepat mungkin menurunkan kasus penyebaran di Kalsel.

Menkes Terawan menambahkan, pihaknya akan terus melakukan supervisi dan  meningkatkan kemampuan testing covid-19 karena BBTKL-PP di Banjarbaru harus juga memeriksa spesimen yang dikirim dari Kalimantan Tengah. 

Gubernur Kalsel Sahbirin Noor berterima kasih atas kunjungan yang dilakukan Menko PMK, Menkes, dan Ketua Gugus Tugas untuk membantu menangani wabah Covid-19. Ia menyadari peningkatan jumlah kasus di Kalsel sangat tinggi dan membuat pemerintah daerah sempat kaget melihat cepatnya penularan yang terjadi di masyarakat.

“Belum pernah saya dihadapkan kepada situasi seperti sekarang. Kami memang terkaget, tetapi kami tidak putus asa. Bersama-sama para bupati dan wali kota, serta seluruh komponen masyarakat, kami mencoba mengendalikannya,” kata Shabirin saat pemaparan di Kantor Gubernur.

Semua sumber daya, menurut Shabirin, difokuskan untuk mengendalikan covid-19. Jumlah tempat tidur di rumah sakit yang semula hanya 22 tempat tidur, sekarang sudah ditingkatkan menjadi 600 temoat tidur.

Kepala BBTKL-PP Slamet Mulsiswanto menjelaskan kemampuan pemeriksaan yang dilakukan laboratorium telah ditingkatkan dari semua hanya 68 spesimen menjadi 400 spesimen setiap hatinya. “Kalau harus melakukan pemeriksaan 24 jam, kami siap apabila dibantu jumlah tenaga laboratoriumnya,” kata Slamet.

Baca juga: Mal Grand Indonesia Buka 15 Juni, Pengunjung Dibatasi 50%

Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina mengatakan, keterlambatan testing dan hasil pemeriksaan laboratorium menyebabkan informasi tentang warga yang terpapar covid-19 terlambat diketahui sehingga langkah pencegahan pun terlambat dilaksanakan. 

“Peningkatan kasus terkonfirmasi terjadi karena testing lebih masif dilakukan. Tetapi karena keterbatasan laboratorium yang ada di Banjarmasin, informasi yang kami dapatkan pun terlambat diperoleh dan penularan terjadi begitu cepat,” kata Ibnu Sina. (RO/OL-6)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya