KONDISI perairan Bali dalam musim transisi hujan menuju kemarau masih rawan untuk aktivitas pelayaran. Pasalnya, tinggi gelombang diprediksi bisa mencapai 3,5 meter.
"Dalam masa transisi musim saat ini tinggi gelombang khususnya di perairan selatan Bali masih berpotensi mencapai 3,5 meter," ujar prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Eka Prasanti, kemarin.
Berdasarkan prakiraan tersebut, lanjut Eka, pihak BMKG Denpasar telah mengirimkan peringatan kepada penyelenggara pelayaran terutama pengelola pelabuhan laut agar lebih waspada. Prakiraan itu berlaku tiga hari ke depan.
Curah hujan pun masih tinggi selama musim pancaroba ini. Di Kabupaten Jembrana, tanaman padi siap panen di sejumlah wilayah subak rebah dan terendam air menyusul hujan deras yang mengguyur wilayah itu, kemarin.
Di Bengkulu, dampak gelombang tinggi selama tiga hari ini sesuai prediksi BMKG, sedikitnya 500 nelayan di wilayah itu tidak melaut.
Herman, 41, nelayan asal Desa Pasar Lama, Kecamatan Kaur Tengah, Kabupaten Kaur, mengatakan sudah tiga hari ini para nelayan tidak melaut dan memilih menjadi tukang batu atau pembersih kebun.
"Sekarang ini harga ikan di pasar tradisional mahal karena pasokan sedikit. Kalau nekat melaut berbahaya karena gelombang laut tinggi bisa datang tiba-tiba," kata Herman.
Pun di Majalengka, Jawa Barat, tiupan angin cukup kencang meng-halangi proses pencarian nelayan yang hilang akibat diterjang gelombang tinggi.
Prakirawan BMKG Stasiun Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Ahmad Faa Iziyn menjelaskan angin kencang akan bertiup pada dua hingga tiga hari ke depan.
Sementara itu, dari Kabupaten Indramayu, Kasatpol Air Polres Indramayu I Nyoman Oka melaporkan adanya informasi dari nelayan Tegal tentang penemuan dua nelayan yang hanyut di perairan setempat. (MY/UL/RS/N-4)