MESKI banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, berangsur surut, para petani setempat khawatir banjir susulan akan datang.
Itu karena curah hujan dan permukaan bengawan di kawasan tersebut masih tinggi. Apalagi, hingga saat ini banjir masih menggenangi area persawahan di delapan desa.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Andik Sudjarwo sebelumnya juga menyatakan kewaspadaan tetap diperlukan meskipun ada kencenderungan debit Bengawan Solo di daerahnya turun.
Anwar, petani Desa Karangtinoto, kemarin, mengkhawatirkan banjir susulan. Menurut dia, tanaman padi di sekitar kampungnya saat ini sebagian mulai menguning dan sebagian yang lain memasuki masa ambyak (berbulir). Jika sungai Bengawan Solo meluap lagi, kata dia, besar kemungkinan tanaman padi tersebut tidak bisa terselamatkan.
"Besar kemungkinan puso seperti tahun kemarin," terang dia.
Ia mengatakan, saat ini masih ada lahan pertanian di delapan desa yang sebagian tanamannya terendam banjir. Meski sedikit surut, tinggi genangan banjir masih berkisar 70-75 sentimeter di persawahan.
Hal senada disampaikan oleh Sutiyo, petani Desa Kanorejo. Menurut dia, banjir susulan masih berpotensi terjadi di hilir Bengawan Solo, termasuk di wilayah Kabupaten Tuban. Apalagi, saat ini hujan masih sering turun.
"Bahkan, hujan deras juga baru saja reda. Ini yang membuat kami resah karena banjir susulan bisa saja terjadi sewaktu-waktu," ungkap Sutiyo.
Saat ini, banjir masih merendam sekitar 200 hektare lebih lahan pertanian di delapan desa di Kecamatan Regel, Tuban. Keresahan petani, lanjut dia, karena tanaman padi pada lahan tersebut sebagian belum dipanen. Menurutnya, sebenarnya panen baru bisa dilaksanakan 10 hari lagi.
"Semoga segera surut agar tanaman padi bisa dipanen," tukas Sutiyo. (YK/N-2)