SEBUTAN Kabupaten Majalengka sebagai the big village atau desa yang besar mulai tidak terdengar lagi seiring dengan menggeliatnya pembangunan.
Dahulu Majalengka tidak ubahnya sebuah wilayah sepi dan tempat yang cocok untuk para pensiunan.
Namun, dengan akselerasi pembangunan pemerintahan sekarang, Majalengka mulai ramai dikunjungi dari luar kabupaten. Desa besar itu kini menjadi Kota Majalengka.
Bupati Majalengka Sutrisno berencana menjadikan Kota Majalengka menjadi kota metropolitan. Untuk mewujudkan rencana itu, program pembangunan kota dimulai dari penataan dan pelebaran jalan utama yang dilengkapi penerangan jalan. Langkah itu sebagai bukti nyata mengubah wajah Kabupaten Majalengka. Tidak ada lagi wilayah di Majalengka yang terisolasi.
"Salah satu pemerataan pembangunan ialah sarana jalan yang layak untuk seluruh lapisan masyarakat sehingga masyarakat dari berbagai wilayah dapat merasakan manfaat pembangunan," kata Sutrisno saat ditemui Media Indonesia, Rabu (22/4).
Mewujudkan Majalengka sebagai kota metropolitan bukanlah sebuah mimpi. Apalagi dalam waktu dekat akan dibangun bandara internasional Jawa Barat (BIJB) di Kecamatan Kertajati, dilengkapi kawasan aerotropolis yang direncanakan beroperasi 2017.
Pembangunan bandara itu didukung dengan pembangunan dua tol yang melintasi Kabupaten Majalengka, yakni tol Cikapali (Cikampek-Palimanan) dan tol Cisumjati (Cileunyi-Sumedang-Kertajati). Pembangunan infrastruktur bandara dan tol dipastikan akan menumbuhkan pusat-pusat bisnis, perdagangan, dan jasa di wilayah Majalengka. Tumbuhnya sektor industri diyakini bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
"Kota metropolitan Majalengka bukanlah sebuah mimpi dari saya sebagai kepala pemerintahan. Namun, ini adalah harapan dari seluruh warga Majalengka yang menginginkan perubahan," lanjut Sutrisno.
Aset tidak bergerak yang ada di Majalengka kini dimanfaatkan maksimal melalui pemerintah daerah dan skema kerja sama dengan pihak ketiga untuk menambah PAD.
"Hingga saat ini kita terus berupaya menggenjot agroindustri yang ada di wilayah Majalengka. Potensinya sangat besar dan bila berkembang pesat, tidak mustahil Majalengka akan menjadi industri agrowisata yang dikenal luas," ujar Sutrisno.
Saat ini Pemkab Majalengka tengah mengembangkan agrowisata kawasan kebun mangga gedong gincu di Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, dan kebun durian di Sinapeul, Kecamatan Sindangwangi.
Wisata alam Daerah wisata lainnya ialah Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Selain banyak keanekaragaman hayati, pada musim-musim tertentu TNGC sering dijadikan tempat singgah spesies burung dari Jepang.
Daerah wisata alam lainnya yang cukup populer ialah Situ Sangiang di Kecamatan Banjaran, Curug Muara Jaya di Kecamatan Argapura, Curug Cipeuteuy di Kecamatan Sindangwangi, dan wisata paralayang Kecamatan Majalengka.
Kawasan dataran tinggi di Kecamatan Maja, Argapura, Banjaran, Talaga, Cikijing, Cinganbul, Banturujeg, Malausma, dan Lemahsugih dipetakan sebagai tempat peristirahatan.
Di dataran rendah, Kecamatan Jatiwangi, Palasah, Ligung, Sumberjaya, dan Kertajati disiapkan untuk pusat bisnis, perdagangan, dan jasa.
Impian Majalengka menjadi kota industri dan jasa diamini Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri, Imam Haryono. "Jawa Barat masih memungkinkan mengembangkan industri terutama di wilayah timur, khusus Kabupaten Majalengka yang berpotensi menjadi kawasan industri," ujar Imam.
Menurutnya, Majalengka akan menjadi relokasi sejumlah industri yang ada di Bandung Raya. Saat ini industri tekstil di Bandung Raya sudah padat dan mulai kesulitan air bawah tanah. Kawasan yang masih potensial ada di Majalengka, apalagi berdekatan dengan BIJB, yang kini sudah dalam proses pembangunan landasan.
Bupati Sutrisno bersama wakilnya, Karna Sobahi, meminta seluruh komponen masyarakat bersama-sama membangun Majalengka agar bisa terwujud Majalengka MAKMUR (maju, aman, kondusif, mandiri, unggul, dan religius). (N-4)