Warga NIlai Pemkot Pematangsiantar Tangani Covid-19 Amatiran

Apul Iskandar Sianturi
12/4/2020 16:11
Warga NIlai Pemkot Pematangsiantar Tangani Covid-19 Amatiran
ilustrasi(mediaindonesia.com)

KASUS Covid-19 pertama di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara terkonfirmasi sejak 30 Maret 2020. Minimnya upaya pencegahan  yang dilakukan Pemkot menyebabkan kasus pertama menulari  kepada empat anggota keluarganya yang lain. Satu keluarga dinyatakan positif Covid-19 pada 4 April.

Berkaca pada fenomena itu,  Kaukus Muda Siantar (KMS) mengumpulkan pendapat dari wargal yang berdomisili di delapan kecamatan di Pematangsiantar. Sampel berusia minimal 17 tahun dan dipilih secara acak.

Pengumpulan pendapat dilakukan pada 5 dan 6 April 2020. Dengan menyebarkan questionnaire berbasis daring. Wawancara mendalam dilakukan dengan responden yang dipilih secara acak. Dengan sampel sebanyak 456 dari seluruh populasi (BPS Pematangsiantar 2018: 251.513 jiwa), tingkat presisi survey ini adalah 95%.

"Kesalahan dalam pengambilan sampel bisa saja terjadi karena perbedaan tingkat pendidikan, kemapuan dalam mengakses internet dan pengawasan lokasi sampel, tapi presisi survey mencapai 95%," klaim pimpinan Kaukus Muda Siantar, Fernando Sihotang dan Tumpak Hutabarat, Minggu (12/4).

Menyikapi isu Covid-19 warga Pematangsiantar, jelas dia, sangat antusias. Setidaknya 92% responden sudah mengetahui ada kasus korona positif, dan hanya 5,9% responden yang tidak mengetahui perkembangan penyebaran wabah ini di Kota Pematangsiantar.

Antusias warga ditunjukkan dengan keaktifan mencari informasi dari media baik yang dikelola oleh Pemerintah Kotamadya (Pemko) Pematangsiantar maupun dari sumber media mainstream dan linimasa. Antusias responden juga dapat dilihat dari jumlah warga yang sudah mengetahui rumah sakit rujukan Covid-19 di kota Pematangsiantar. Hampir dua pertiga (65,4%) responden sudah mengetahuinya.

Tingkat kepercayaan publik terhadap Pemko Pematangsiantar sangat rendah. Mayoritas (71,5%) responden menaruh sentimen negatif atas upaya antisipasi virus korona. Hanya 17,3% tanggapan optimis bahwa Pemko dapat diandalkan menghadapi wabah ini.

Begitu pula penilaian mereka terhadap kemampuan Pemko Pematangsiantar menangani warga yang terdampak virus Korona.

Di tengah munculnya kasus pertama Covid-19 di Pematangsiantar, pada faktanya mayoritas responden (59,9%) menjawab tidak yakin. Namun, ada juga responden yang memberikan jawaban positif, yakni 25,7%.

Untuk urusan komunikasi publik, mayoritas responden tetap berada pada ruang sentimen negatif. Lebih dari dua pertiga (67,5%) berpendapat bahwa peran komunikasi publik Pemko untuk hal-hal terkait antisipasi covid-19 tidak memadai.

"Salah satu faktor yang menguatkan kencederungan ini adalah minimnya pengetahuan yang diperoleh warga terkait prosedur dan langkah yang harus diikuti jika ada anggota masyarakat terpapar korona. Hanya 23,9% memberi nilai positif. Kecenderungan ini semakin meyakinkan analisis tingginya kesenjangan literasi warga akan isu covid-19", paparnya.

Kecemasan selama krisis pandemi ini merupakan akibat yang wajar. Namun, porsi yang berlebihan justru menimbulkan masalah psikososial yang baru. Kondisi psikososial mayoritas responden berada di posisi panik karena takut (63,6%).

Kepanikan beranjak dari premis, yaitu peran komunikasi publik yang minim dan rendahnya keyakinan warga terhadap otoritas kotanya dalam hal mengantisipasi dan menangani wabah.

Persoalan Covid-19 tidak akan menemukan titik akhir jika hanya bertumpu kepada pemerintah, apalagi jika mayoritas warga sudah sedari awal menilai negatif. Hal yang problematik berikutnya, apa peran masyarakat itu sendiri dalam keseharian mereka. Survey ini juga menguji kecocokan data antara sikap kecemasan dengan perilaku disiplin diri warga.

"Faktanya menunjukkan bahwa protokol korona yang dirujuk oleh pemerintah diikuti oleh 62,9% responden. Jumlah ini mendekati angka (63,6%) responden yang panik karena takut setelah mengetahui adanya kasus terkonfirmasi di kota mereka", ungkap Fernando.

Tidak sedikit pula yang mengabaikan anjuran tersebut, yaitu 35,1% (kurang mengikuti) dan 1,3% (tidak mengikuti). Alasan ekonomi, harus bekerja (42,3%), mendominasi pola pengabaian, diikuti aktifitas berbelanja (15,4%), keyakinan tidak akan tertular virus (3,1%), tidak takut (1,7%), dan aktifitas peribadatan (0,6%).

Melihat data di atas, peningkatan kinerja Pemerintah Kota Pematangsiantar dalam mengantisipasi dan menangani kasus korona adalah keharusan.  Sudah banyak komunitas dan rakyat kecil turun ke jalan secara swadaya bergerak melakukan aksi sosial.

"Aksi sekelompok orang saja tidak cukup. Perilaku warga dalam keseharian mereka tetap menjadi bagian inti dari rantai memutus penularan Covid-19. Dan yang paling penting adalah kemampuan pemimpin (Walikota) untuk keluar dari isu pandemi ini, " tandasnya. (OL-13)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Muhamad Fauzi
Berita Lainnya