Ketika Ganjar Dikeroyok Mahasiswa

MI
24/4/2015 00:00
Ketika Ganjar Dikeroyok Mahasiswa
(MI/HARYANTO)
ACARA ngopi bareng Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di kantin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo bersama ratusan mahasiswa, kemarin, membahas berbagai persoalan, tidak hanya isu politik nasional, pertanian, infrastruktur jalan, juga pro-kontra pembangunan pabrik semen di Rembang. Dialog terasa gayeng karena tidak ada moderator sehingga mahasiswa bisa langsung menyanggah atau menginterupsi perkataan Gubernur.

Presiden BEM UNS Eko Pujianto mempertanyakan kebijakan di bidang pertanian. Mahasiswa Fakultas Pertanian Wildan Wahyu Nugroho menilai kebijakan pemerintah di bidang pertanian masih terkesan main-main.

"Bapak kan temannya Pak Jokowi, mbok disampaikan, pembangunan pertanian itu bukan tambah lahan atau mekanisasi, melainkan bagaimana menjamin hasil pertanian. Saya usulkan asuransi pertanian sehingga petani tidak rugi kalau panen gagal," katanya.

Menurut Ganjar, gagasan asuransi pertanian memang bagus. "Persoalannya belum ada perusahaan asuransi yang berani mendukung. Mereka masih keberatan terutama menjamin batas bawah harga gabah."

Mahasiswa lain bertanya apakah ujian terberat Ganjar sebagai politikus. Ganjar menjawab tidak pernah merasa berat karena dunia politik sangat menyenangkan. Jika ada yang merasa berat, mungkin ketika ada politikus yang akan maju pemilihan legislatif atau kepala daerah. "Dia pakai sistem ujian seperti anak sekolah, hanya turun ke bawah menjelang coblosan, ya pasti berat. Akhirnya money politics. Padahal politisi bertugas menghimpun aspirasi dan melaksanakan pendidikan politik pada masyarakat. Itu harus setiap waktu," katanya.

Dialog semakin ramai ketika mahasiswa menantang Ganjar berdebat soal pembangunan pabrik semen di Rembang. Mahasiswa memaparkan data dan hasil diskusi dengan pakar geologi. Misalnya soal pegunungan karst di Rembang yang masuk kawasan lindung, ancaman kerusakan lingkungan, dan abainya Ganjar pada masyarakat Samin.

Ganjar menjawab dengan mengajak mahasiswa menggunakan pendekatan ilmiah. Ia meminta mahasiswa datang ke pabrik PT Semen Indonesia untuk mengetahui mekanisme penambangan karst.

"Jika sudah tahu metodenya, baru diuji secara ilmiah. Apakah cara PT SI itu salah dan merusak lingkungan," katanya.

Soal masyarakat Samin, menurut Ganjar, faktanya tidak ada Sedulur Sikep yang bermukim di Rembang. Pekan lalu serombongan warga Samin Blora bertamu ke rumah dinas gubernur. Mereka merasa sering dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. "Padahal orang Samin punya prinsip hidup ora ngumbar suoro (tidak mengumbar suara)." (HT/WJ/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya