Generasi Terakhir Pembuat Gerabah

MI/TOSIANI
21/4/2015 00:00
Generasi Terakhir Pembuat Gerabah
(MI/TOSIANI)
YAMINI, 75, tampak fokus membuat kerajinan gerabah di depan halaman rumahnya di Dusun Daleman, Desa Tegowanu, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Saat ditemui pada Selasa (7/4), di tengah gerimis ia tetap mengolah tanah basah berwarna cokelat untuk dijadikan sebuah gerabah. Belasan kerajian seperti kendi, pot bunga, cobek, blengker, dan kuali hasil karyanya berjajar rapi di emperan rumahnya.

Dalam sehari Yamini mampu menghasilkan 15 gerabah. Teman masa kecilnya, Parini Ginuk, 70, juga ikut melakukan hal sama. Dia juga sibuk membuat kuali. Beberapa hasil karyanya seperti tempat nasi, vas, gentong, tempat air, pot, dan cerobong asap berjejer di dekat tempat ia bekerja.

Yamini dan Parini membuat gerabah sejak remaja. Orangtua mereka juga perajin gerabah. Tiap remaja di desanya wajib belajar membuat gerabah. Sebelumnya mereka mendapat pelajaran membuat gerabah dari orangtua.

Oleh sebab itu, generasi Yamini dan Parini ini yang hingga kini masih bertahan sebagai perajin gerabah. Sebaliknya, anak cucu mereka benar-benar tidak berminat meneruskan tradisi membuat peralatan dari gerabah.

''Saya sudah berusaha menawarkan kepada anak-anak dan cucu agar bersedia mewarisi usaha kerajinan ini, tetapi tidak ada yang berminat. Padahal saya bersedia mengajarinya. Jadi mau bagaimana lagi? Sekarang tinggal kami berdua saja yang bertahan dengan kerajinan ini,'' tutur Parini Ginuk.

Sementara itu teman-teman seangkatannya sudah lebih dahulu tutup usia dan juga tidak ada lagi yang meneruskan keahlian mereka. Parini sempat vakum membuat gerabah selama lima tahun. Ia memilih menganggur, sedangkan Yamini hanya vakum satu tahun. Ia sempat berjualan makanan. Namun kemudian ia kembali menekuni usaha turun-temurun membuat gerabah.

Setelah vakum, semangat mereka kembali memuncak. Yamini, misalnya, hanya dalam waktu 30 menit bisa menghasilkan tiga pot bunga kecil-kecil. Kemudian pot-pot tersebut dicat warna-warni oleh adiknya, Sukirman, 50.

Hasil kerajinan gerabah ini lalu dijual di Kecamatan Parakan, Temanggung. Harga gerabah itu bervariasi. Harga vas dan pot bunga kecil berkisar Rp5.000-Rp10.000 per buah. Adapun pot besar yang sudah dicat dijual dengan harga Rp50 ribu.

Untuk membuat kerajinan gerabah, Parini membeli tanah liat dari kebun di desanya seharga Rp100 ribu per satu rit atau satu truk. Tanah sebanyak itu bisa dijadikan 200 hingga 300 unit gerabah berbagai ukuran.

Parini dan Yamini merupakan generasi terakhir pembuat gerabah di desa itu.

''Kami inginnya ada penerus. Biarpun keuntungan sedikit, tetap ada penerus supaya tidak punah,'' harapnya. (N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya