PERBAIKAN tanjakan Ciregol yang menjadi jalur vital transportasi darat dikebut siang dan malam agar segera bisa dilalui lagi.
Jalur Ciregol longsor pada Sabtu (11/4), sehingga tidak dapat dilalui. Ruas jalan di Desa Kutamandala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu menghubungkan jalur tengah dan selatan ke jalur pantai utara (pantura). Atau dari Brebes/Tegal ke Purwokerto dan sebaliknya.
Dari penjelasan pihak Bina Marga, kondisi Ciregol memiliki tiga titik longsor yang harus ditangani. Salah satu titik telah ditangani dan satu titik kini justru ambrol dan memutuskan jalan.
"Memang ada tiga titik yang longsor. Satu titik sudah ditangani, kini satu titik lagi malah longsor dan memutuskan jalan," ujar Kepala BPT Bina Marga Wilayah V Jateng, Herdi Herdiawan, kemarin.
Herdi menyebutkan jalur Ciregol secepatnya akan direlokasi dan anggaran untuk itu telah disediakan pemerintah. Saat ini sedang dilakukan proses upaya pembebasan. Selain itu juga tetap dilakukan penanganan darurat dengan melakukan pengeprasan sisi selatan bukit jalan untuk pelebaran jalan yang longsor.
Rencananya, dalam satu minggu ini pembenahan darurat terus dilakukan. Jalur Ciregol ditargetkan dapat dibuka kembali pada Senin (20/4).
Adapun, penanganan jangka panjang atau permanen harus dengan merelokasi jalan. Saat ini pemerintah juga sudah menyiapkan anggaran untuk pembebasan tanah semetara Rp8 miliar.
Penutupan jalur Ciregol membuat kendaraan dari arah Brebes yang keluar Tol Pejagan dan hendak menuju ke jalur selatan dialihkan melalui jalur pantura. Adapun kendaraan dari arah Banyumas yang hendak menuju Jakarta dialihkan melalui Wangon-Cilacap-Tasikmalaya-Bandung.
Jalur alternatif rusak Di bagian lain, awak angkutan, baik truk maupun bus di Banyumas, Jateng, mengeluhkan jalur alternatif Purbalingga-Pemalang yang juga rusak. Apalagi kondisi topografinya yang amat membahayakan karena memiliki banyak tanjakan dan turunan. Oleh karena itu, mereka berharap selain mempercepat normalisasi jalur Ciregol, jalan alternatif juga harus dibenahi.
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Banyumas Agus Sriyono mengatakan awak angkutan memang mengeluhkan amblesnya jalur Ciregol karena jalan setempat merupakan jalur vital menuju pantura. "Oleh karena itu, mereka berharap agar pemerintah secepatnya melakukan normalisasi. Sebab, pengusaha angkutan harus mengeluarkan biaya operasional lebih banyak," jelas Agus, kemarin.
Dikatakan Agus, biaya operasional tersebut meningkat karena jarak ke Jakarta dari Purwokerto lebih panjang. "Perbandingannya, jika melewati jalur selatan atau via Bandung, selisih jarak dapat mencapai 100 kilometer (km). Secara otomatis, biaya operasional lebih tinggi, karena membutuhkan BBM yang lebih banyak," ujarnya.
Dari Subang, Jawa Barat, kondisi jalan provinsi semakin memperihatinkan. Lubang besar dan jalan bergelombang mengancam keselamatan pengguna jalan.
Kondisi jalan rusak parah berada di antara Subang-Sadang, Purwakarta, kemudian Subang-Pamanukan, dan Subang-Tangkuban Parahu.
Kapolres Subang Ajun Komisaris Besar Harry Kurniawan, kemarin, melaporkan kondisi jalan rusak ke Dinas Bina Marga Jabar. "Belum ada respons," kata Harry.
Selain itu, di jalur Gentong, Tasikmalaya, Jawa Barat, terjadi macet hingga dua jam, kemarin. Kemacetan jalur Tasikmalaya-Bandung itu diakibatkan truk trailer terguling di Tanjakan Puspa, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten. (LD/RZ/AD/N-2)