Stok Raskin di Gudang Bulog Minim

MI/TOSIANI
15/4/2015 00:00
Stok Raskin di Gudang Bulog Minim
Sejumlah pekerja sedang menyiapkan beras untuk masyarakat miskin di Gudang Bulog(ANTARA)
STOK beras di gudang Perum Bulog Subdivre Wilayah V Kedu makin menipis. Pengadaan beras pada musim panen padi kali ini juga tersendat. Guna mencukupi persedian beras untuk masyarakat miskin (raskin), Bulog setempat terpaksa menambah pasokan beras dari daerah lain.

Kepala Perum Bulog Subdivre Wilayah V Kedu, Fansuri Perbatasari, mengatakan sebelumnya stok beras di gudang Bulog sebanyak 11.202 ton. Ditambah pengadaan musim panen sebanyak 3.500 ton, total beras yang tersimpan di gudang Bulog sebanyak 14.703 ton.

Adapun kontrak pengadaan beras dengan sejumlah mitra kerja Bulog saat ini mencapai 627 ton. Namun, realisasi beras yang masuk ke gudang Bulog hanya 150 ton. Sebaliknya tahun lalu volume beras yang masuk mencapai 1.000 ton. Adapun realisasi penyaluran raskin ke enam kabupaten/kota di wilayah Kedu mencapai 5.600 ton per bulan.

"Dengan kondisi seperti itu, cadangan beras yang tersimpan di gudang Bulog saat ini hanya cukup untuk penyaluran raskin selama dua bulan lebih. Stok beras yang ada sekarang ini belum pada posisi aman," kata Fansuri di Temanggung, Jawa Tengah, kemarin.

Pasalnya semua beras yang tersimpan di Bulog wilayah Kedu ini harus disalurkan ke Kabupaten Purworejo, Kebumen, Temanggung, Wonosobo, Magelang, dan Kota Magelang.

"Supaya stok beras dalam posisi aman, cukup untuk kebutuhan penyaluran raskin selama tiga bulan atau lebih, kami masih memerlukan tambahan sekitar 3.000 ton beras lagi dari daerah lain," ujar dia.

Penyebab tersendatnya pengadaan beras karena banyak petani menahan diri untuk tidak menjual hasil panen. Alasan lain ialah rata-rata kadar air dalam beras milik petani terlalu tinggi. Untuk raskin harusnya memenuhi syarat kadar air 14%, tapi kadar air beras milik petani berkisar 14,5%-15%.

Di Tegal, para nelayan berharap selama musim paceklik bisa mendapatkan bantuan beras dari pemerintah. Ketua KUD Karya Mina Kota Tegal, Hadi Santoso mengatakan tuntutan pemberian beras ini sudah disampaikan melalui puluhan nelayan yang berdemo di Kantor Wali Kota Tegal pada Minggu (13/4).

Dalam menanggapi permintaan beras untuk nelayan, Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno tidak bisa mengabulkan begitu saja. Menurutnya, untuk pengadaan beras paceklik harus konsultasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan. "Wali kota tidak bisa mengeluarkan karena sesuai aturan harus ada pemberitahuan dari SKOP dan BMKG terkait cuaca yang kemudian diikuti penerbitan SK wali kota untuk mengeluarkan beras paceklik," ujar Siti.

Maksimalkan penyerapan
Penyerapan gabah dan beras di Bulog Subdivre Cirebon, Jawa Barat, setiap hari bisa mencapai 800 ton. Dua satgas pun diturunkan langsung untuk membeli gabah dan beras dari petani setiap harinya.

Kepala Subdivre Bulog Cirebon, Miftahul Ulum, mengatakan saat ini total beras yang sudah diserap mencapai 10 ribu ton setara beras.

Peningkatan penyerapan gabah dan beras yang dilakukan Bulog Cirebon sudah terjadi sejak sepekan ini. "Kami akan terus maksimalkan penyerapan," ujar Miftahul.

Harga gabah petani saat ini turun drastis. Mashuri, petani asal Desa Babakan, Kecamatan Ciwaringin, mengatakan harga gabah kering panen saat ini hanya Rp3.300 per kg. "Harga tersebut sangat jauh, jatuh ketimbang harga gabah sebelumnya yang bisa mencapai Rp5.000 per kg.

Dia mengatakan akan segera mengolah lahannya untuk ditanami kembali pada musim tanam gadu (kering). "Biasanya harga gabah lebih tinggi pada panen gadu karena kadar airnya lebih rendah ketimbang saat panen rendeng," ujarnya. (HT/UL/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya