ADA yang beda di Rukun Warga (RW) 13 Kelurahan Tegalpanggung, Kecamatan Danurejan, Yogyakarta. Di RW-RW lain, lazimnya yang memimpin ialah bapak-bapak berusia 50 tahun ke atas, bahkan banyak pula yang dipilih dari kalangan pensiunan.
Berbeda dengan di RW 13 Kelurahan Tegalpanggung ini. RW dipimpin oleh Octa Viantary yang masih berusia 23 tahun. Mahasiswi semester akhir Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu resmi dilantik sebagai ketua RW pada 31 Maret lalu. Octa berhasil menyisihkan tiga kandidat lain saat pemilihan ketua RW beberapa waktu lalu.
Diakui perempuan kelahiran 27 Oktober 1991 itu, selama ini tidak lazim ketua RW dijabat perempuan, apalagi yang belum berkeluarga. Karena ketidaklaziman tersebut, waktu pelantikan ketua RW, ia dikira sebagai penyanyi. Tidak hanya itu, saat rapat di kecamatan pun ia menjadi pusat perhatian.
Vian bercerita, semua berawal dari omong-omong bercanda dengan tetangga-tetangga di kampungnya tentang pencalonannya menjadi ketua RW.
Namun, menjelang pemilihan pengurus RW, ternyata omongan tersebut menjadi serius. Ia pun menjadi salah satu kandidat dari empat kandidat ketua RW yang ada.
"Awalnya dari bercandaan ada yang usul jadi 'Mbak RW'. Namun, saat itu saya bilang kayaknya enggak karena belum tahu birokrasi," cerita perempuan yang akrab disapa Vian tersebut.
Di saat bersamaan, ayahnya yang tadinya menjadi calon kuat ketua RW menolak dicalonkan karena belum punya waktu banyak untuk mengurus RW. Vian pun akhirnya berubah pikiran seiring dengan emakin menguatnya dukungan terhadapnya untuk menjadi ketua RW. Ia pun kemudian bersedia menerima pencalonan tersebut dan maju menjadi kandidat ketua RW.
Saat pemilihan tiba, Vian berhasil mengungguli tiga calon lain yang semuanya lelaki. "Dari 105 warga yang memilih, saya mendapat 42 suara," terang dia ketika ditemui di rumahnya.
Menurut perempuan yang tengah sibuk menyelesaikan skripsi itu, saat ini belum ada kendala yang dihadapinya terkait dengan jabatannya sebagai ketua RW.
Program dia saat ini ialah berusaha selalu menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan warga. Ia juga berusaha sebanyak mungkin menyerap aspirasi dari warganya.
"Saya minta apa pun yang menjadi grundelan warga agar disampaikan," terang perempuan yang pernah menjadi model dan sekarang aktif mengajar mo-deling di SMP Maria Immaculata ini.
Ia berharap, dengan jabatannya sebagai ketua RW, bisa berperan menjadikan kampungnya lebih baik dan penuh warna sehingga menarik untuk dikunjungi wisatawan. (N-4)