Marak,Pendaki Bermodal Nekat

Wahyu Bimo, Puput Mutiara
13/4/2015 00:00
Marak,Pendaki Bermodal Nekat
( MI/BRIYANBODO HENDRO)
PERINGATAN 2 abad letusan mahadahsyat Gunung Tambora ibarat magnet bagi khalayak untuk melihat secara langsung keindahan dari jejak sejarah sang giri di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat itu.

Mereka yang telah terbiasa bercinta dengan alam, pun para awam yang sekadar penasaran dan sayangnya acap tanpa persiapan.

Dari pengamatan Media Indonesia Adventure Team saat menyusuri jalur pendakian Gunung Tambora, Kamis (9/4), banyak pendaki yang naik tanpa perlengkapan yang memadai.

Seperti halnya Nisa, 19, dari Mataram, Nusa Tenggara Barat. Terlihat santai menapaki jalur pendakian pos 1 ke pos 2 sepanjang kurang lebih 7 km dengan memakai sepatu kasual, alas kaki yang lebih cocok digunakan untuk ke mal.

''Dienak-enakin aja Mas, jalannya juga pelan-pelan kok. Ini pertama saya naik gunung, diajak sama teman. Mau ikutan upacara di puncak,'' celotehnya.

Padahal, memakai sepatu kasual di gunung sangat berisiko karena licin sehingga kaki tidak bisa berpijak kuat. Kemungkinan tergelincir sangat besar, ditambah kondisi jalur pendakian yang basah selepas hujan.

Ada pula pendaki dengan kondisi lengan kiri digips karena patah akibat tergelincir sejauh 3 meter. ''Saya terpeleset di akar Bang. Sudah capai banget, sudah malam juga, tapi saya pikir tanggung sedikit lagi pos 4. Saya lanjut terus supaya nanti ke puncaknya dekat,'' tuturnya.

Padahal, pendaki sebaiknya lebih bisa membaca situasi sekitar dan kemampuan fisik sendiri. Jangan hanya bernafsu ingin cepat sampai di puncak, abai dengan keselamatan.

Lain cerita dengan Febri dari Bima yang ditemui saat berada di sekitar Pos Cemara akhir. Bersama ketiga orang saudaranya, dia asyik membuat perapian di antara celah tebing dan gua cukup lebar. ''Kita tidak bawa tenda, Kakak. Di sini saja, kita sudah cukup hangat''.

Febri mengaku hanya berbekal makanan, tanpa perlengkapan seperti tenda atau sleepingbag (kantong tidur) untuk menjaga suhu tubuh ketika cuaca mendingin pun tidak ada.

Lagi-lagi kelengkapan dan perbekalan pendakian diabaikan. Pada dasarnya, dalam pendakian itu, kita tidak pernah tahu kondisi alam yang selalu berubah-ubah.

Mendaki gunung butuh perlengkapan dan perbekalan, serta kesiapan fisik dan mental. Pendaki harus paham karakter gunung. Keindahan alam bisa dinikmati tanpa harus dibayar dengan cedera yang sebenarnya bisa diantisipasi.

Pendakian berhasil ketika bisa turun dari puncak dan pulang ke rumah dengan kondisi sehat untuk bercerita.(N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya