Taman Nasional Tambora Diresmikan

Mut/Try/YR/X-4
12/4/2015 00:00
Taman Nasional Tambora Diresmikan
Tarian kolosal Rai Saida dalam acara "Tambora Menyapa Dunia" di Desa Doro Ncanga, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu, NTB.(MI/RAMDANI)

PEMUKULAN lesung oleh Presiden Joko Widodo menjadi penanda peresmian Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT), kemarin. Setelah itu, Kepala Negara menandata ngani surat resmi perubahan status kawasan Gunung Tambora menjadi taman nasional ke-46 di Tanah Air.

"Saya juga membisikkan Menteri Pariwisata setiap tahun diselenggarakan Festival Tambora agar semua orang tahu di mana itu Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan juga Indonesia," kata Jokowi.

Gubernur NTB M Zainul Majdi menambahkan, pihaknya terus mengupayakan pengembangan potensi kawasan Tambora.

Pasalnya, pascaletusan dua abad silam telah memberikan dampak positif bagi warga masyarakat sekitar.

Zainul mencontohkan Sabana Doro Ncanga yang merupakan bagian dari kawasan strategis Samota (Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Tambora).

"Kami bermaksud menjadikan kawasan tersebut poros ekonomi maritim di Sumbawa. Tambora yang terkenal di mata dunia dengan letusan dahsyatnya pada 1815 diharapkan menjadi pemacu pengembangan wisata di kawasan Samota."

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menegaskan sebagai langkah awal pihaknya melakukan pendekatan kepada masyarakat di sekitar TNGT agar menghindari praktik pembalakan liar.

Taman Nasional Gunung Tambora terdiri dari tiga zona, yaitu cagar alam seluas 23.840,81 hektare (ha), suaka margasatwa 21.674,68 ha, dan taman buru seluas 26.130,25 ha.

Luas keseluruhan TNGT mencapai 71.645,74 ha (lihat grafik).

Berdasarkan catatan kementerian, lanjut Siti, kawasan konservasi Gunung Tambora memiliki potensi keanekaragaman hayati.

Vegetasi yang tumbuh terdiri dari 106 jenis pohon, 18 jenis epifit, 6 jenis herba, 39 jenis liana, dan 49 jenis perdu.

Tak hanya itu, terdapat pula rusa timor (mamalia), biawak, kadal pohon, ular sanca (reptil), kera abu (primata), dan aves.

"Ada juga 8 jenis burung yang dilindungi, yakni 1 di antaranya terancam punah dan 2 jenis burung endemik."

Menurut Kabag Usaha BKSDA NTB Budi Kurniawan, di kawasan TNGT ditemukan pula spesies endemik Elaeocarpus batudulangii yang merupakan tumbuhan khas, juga jenis tumbuhan pembentuk ekosistem seperti cemara gunung (Casuarina junghuniana) dan rajumas (Duabanga moluccana).

Selain itu, di TNGT memungkinkan dikembangkan wisata minat, seperti paralayang, panjat tebing, off road, berkuda, dan wisata ilmiah.

"Tahun ini kami menambah pintu gerbang dan menata jalur pendakian," tandas Budi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya