PENGUNGSI korban longsor Kampung Cinangsi, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, belum diperbolehkan pulang sampai wilayah mereka benar-benar aman untuk ditempati kembali.
Saat ini para pengungsi masih tinggal di Madrasah Arrahman. Sebelumnya mereka menempati bangunan sekolah dasar yang tidak jauh dari lokasi longsor.
Sekda Bandung Barat Maman S Sunjaya meminta para pengungsi tidak perlu khawatir di tempat pengungsian karena kebutuhan logistik ditanggung pemkab.
Selain itu, Pemkab Bandung Barat tidak mau berspekulasi apakah warganya boleh pulang atau tetap tinggal di pengungsian. Menurutnya jika Badan Geologi menyatakan wilayah itu tidak aman ditinggali, pemkab akan mencari lahan alternatif yang bisa dijadikan untuk permukiman korban longsor.
Maman melanjutkan, Pemkab Bandung Barat akan memanfaatkan anggaran dari pos biaya tak terduga yang hanya bisa dicairkan apabila status tanggap darurat kebencanaan ditetapkan. Nilainya sebesar Rp7 miliar.
"Bupati sudah menandatangani status kebencanaan tanggap darurat sejak Senin (6/4) berlaku sampai 21 hari ke depan. Selama tanggap darurat, biaya tak terduga bisa dicairkan kapan pun, disesuaikan dengan kebutuhan," tegasnya.
Longsor menerjang Kampung Cinangsi RT 04/02 Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, pada pukul 08.30 WIB, Kamis (2/4). Sebanyak 12 rumah tertimbun tanah dan 150 warga harus diungsikan.
Tanah bergerak masih mengancam Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi. Longsor yang menewaskan 12 warga akibat runtuhnya bekas tebing hingga sekarang potensinya masih tinggi.
Dari segi geologis, bebatuan di kawasan itu berjenis andesit hornblenda yang lapuk. Akibatnya tanah akan mudah bergerak jika terus-menerus terkena volume air.
Kepala Bidang Air Tanah dan Geologi Lingkungan Dinas Pengelolaan Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Sukabumi Agus Permana mengatakan dari hasil penelitian di sekitar kawasan longsor, disimpulkan penyebabnya kontur tanah labil dan tidak ada vegetasi yang kuat untuk menahan tanah agar tidak terjadi pelepasan.
Untuk menahan longsor, harus segera dilakukan penanaman pohon berakar kuat. Relokasi warga sulit dilakukan karena mereka sudah bermukim di lokasi longsor secara turun-temurun.
"Terdapat juga retakan-retakan tanah yang mesti segera ditutupi," aku Agus. Banjir Selain longsor, banjir dan hujan lebat masih terjadi di sejumlah daerah. Meski genangan banjir Bengawan Solo di beberapa tempat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, berangsur surut, warga masih apabila terjadi banjir susulan. Apalagi curah hujan di wilayah Tuban masih tinggi. Hingga kemarin lebih dari 150 hektare lahan pertanian di delapan desa masih terendam banjir dengan ketinggain 50 cm.
Pada bagian lain, hujan deras menyebabkan jalan provinsi jebol di Desa Diunda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali. Jalan yang jebol dan membentuk lubang menganga berukuran panjang sekitar 4 meter dan lebar 2 meter, dengan kedalaman sekitar 3 meter. (RS/BB/YK/N-4)