Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEPANJANG Januari hingga Maret atau triwulan I 2019, daya serap anggaran Pemprov Sulsel terbilang masih rendah. Hal itu ditengarai akibat lambannya memulai lelang proyek.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel, pada periode tersebut, total serapan anggaran hanya sekitar Rp913 miliar atau 9,35% dari total APBD sebesar Rp9,769 triliun, sedangkan untuk fisik 12,97%.
Padahal, asumsi target serapan anggaran yang ditetapkan pemerintah pusat untuk triwulan I, II, III dan IV berturut-turut 20%, 30%, 25% dan 25%.
Dari data tersebut juga dapat diketahui secara umum ada lima pengguna anggaran dengan daya serap terendah. Kelima instansi yaitu Dinas Kesehatan dengan realisasi keuangan 2,9% dan fisik 7,9%, Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan 2,6% dan fisik 7,6%.
Lalu ada, UPT Transfusi Darah 1,5% dan fisik 6,5%, Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi 0,7% dan fisik 5,7%, serta UPT RSK Gigi dan Mulut masih 0,0% dan fisik 5,0%.
Lima instansi dengan realisasi serapan anggaran tertinggi meliputi Sekretariat DPRD dengan realisasi keuangan 19,5% dan fisik 24,5%, serta Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) sebesar 18,1% keuangan dan 23,1% fisik. Kemudian, Inspektorat Daerah 15,3% dan fisik 20,3%, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) sekitar 13,9% dan fisik 18,9%, serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan sebesar 12,4% dan fisik 17,4%.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel, Jufri Rahman, mengaku rendahnya kondisi penyerapan anggaran memang biasa terjadi saat awal tahun. Alasannya, cukup banyak kegiatan fisik dengan alokasi anggaran besar yang baru akan masuk proses lelang.
"Saya kira masih wajar di triwulan awal realisasi rendah, karena kan kegiatan fisik yang nilainya besar baru akan ditender," seru Jufri Rahman, Kamis (25/4).
Ia optimistis serapan anggaran akan jauh lebih baik pada triwulan II nanti. "Karena triwulan II ini tendernya sudah berproses, sehingga tentu progres triwulan II nanti akan lebih baik jika dibandingkan dengan triwulan I," jelasnya.
Jufri Rahman menyebutkan, sejauh ini Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dan Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman sudah menekankan kepada semua Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) untuk melakukan percepatan, khususnya terkait kelengkapan administrasi untuk proses tender kegiatan.
"Penekanan Pak Gubernur dan Wagub, sekaligus menjadi peringatan bagi kepala OPD untuk mempercepat penyiapan dokumen yang dibutuhkan, untuk pelaksanaan tender oleh Biro Pembangunan selaku UPBJ (unit pengadaan barang dan jasa)," tandas Jufri.
Sebelumnya, Wagub Andi Sudirman Sulaiman mengaku pihaknya saat ini masih melakukan penunjauan untuk menggabungkan beberapa paket proyek.
"Beberapa paket proyek kami mau percepat yang area critical dulu. Critical itu adalah proyek yang memiliki anggaran besar, dan proses pekerjaan yang memakan waktu lama seperti DAK," tuturnya.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Sulsel Andi Arwin Azis mengungkapkan pada periode Januari hingga Maret 2019, pihaknya mengeluarkan belanja tidak langsung, dengan realisasi hanya sekitar 8,10%, atau sebesar Rp555 miliar. Total alokasi belanja tahun ini lebih dari Rp6,8 triliun. (A-2)
Asbanda mendorong BPD untuk melakukan transformasi peran secara fundamental, dari sekadar pengelola dana pemerintah daerah menjadi orkestrator aliran dana daerah.
Beban belanja pegawai pada APBD yang bertambah besar itu, lanjutnya, semakin menekan keuangan daerah pada 2025 dan 2026.
Menurut Prabowo, masih banyak kebutuhan dasar masyarakat yang belum terpenuhi, seperti pembangunan jembatan desa.
Pemprov Kalsel saat ini sedang menyusun sistem pengelolaan CSR terintegrasi melalui sebuah aplikasi digital
Kasus guru honorer SDN Brabe 1, Mohammad Hisabul Huda, dihentikan melalui restorative justice setelah mengembalikan Rp118 juta.
Pemkab Bandung mengajukan permohonan kepada Kemendikdasmen agar dana BOSP dapat dipakai untuk membayar gaji 4.360 guru dan tenaga kependidikan paruh waktu.
Capaian tersebut masih dalam kategori normal karena pada awal tahun mayoritas perangkat daerah masih berada dalam tahap proses pengadaan barang dan jasa
Hingga 30 September 2025, realisasi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) baru 62,8% dari target. Bahkan, ada tiga K/L besar yang serapannya masih di bawah 50%
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) menjanjikan penyerapan anggaran kementeriannya bisa mencapai 96% pada akhir tahun.
Serapan anggaran untuk belanja daerah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di semester pertama 2025 baru sekitar 37%.
Peringatan keras ini disampaikan saat membuka kegiatan Laporan Realisasi Belanja Daerah dan Realisasi PAD Triwulan II Tahun 2025 di Kantor Balai Kota Makassar, Rabu (13/8).
SERAPAN anggaran akhir tahun 2023 yang mencapai 100,2% dari alokasi Perpres 75/2023 dinilai tidak menjamin mampu meningkatkan kualitas anggaran. Indikatornya adalah pertumbuhan ekonomi
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved