DERU bunyi mesin dompeng meraung keras sepanjang jalan koridor menuju lokasi lubuk larangan di Desa Petai, Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi. Bongkahan tanah galian setinggi 8 meter berjejer menghiasi pemandangan.
Di dalamnya terdapat lubang kubangan lumpur tempat pipa mesin dompeng mengisap tanah galian. Dari balik rimbunnya belukar pepohonan dan di sudut-sudut kebun kelapa sawit, deru mesin dompeng terdengar silih berganti. Tak jauh dari sisi kanan jalan, aliran Sungai Singingi tampak kecokelatan keruh bercampur lumpur bekas galian tanah.
Begitulah kondisi alam bagian hilir Sungai Singingi yang luluh lantak akibat maraknya aksi penambangan emas tanpa izin (PETI).
Rasul, pensiunan polisi yang tinggal di Suaka Margasatwa Rimbang Baling, mengatakan penambangan emas marak dalam 10 tahun terakhir. Kondisi lingkungan asri di bagian hilir sungai kini telah musnah. Air sungai yang dulunya jernih beralas batu kerikil dan memancarkan kilauan cahaya dan ikan-ikan bermain bebas saat ini telah berganti dengan sungai yang keruh bercampur lumpur.
"Bagian hilir sungai sudah tak tertolong lagi (hancur luluh lantak). Namun, pada bagian hulu di Rimbang Baling, daerah aliran sungainya masih bagus seperti dulu," ungkap Rasul.
Diterangkan Rasul, tanah di Rimbang Baling kaya kandungan mineral, emas, dan batu bara. Adapun jalan tanah koridor sepanjang 30 km menuju lubuk larangan merupakan bekas jalan yang dibangun semasa zaman penjajahan Jepang pada Perang Dunia I. Jalan tembus itu satu paket dengan jalur kereta api Jepang untuk penambangan batu bara di Rimbang Baling.
Sepanjang jalan itulah diyakini warga setempat sebagai lokasi kuburan massal ribuan korban kerja paksa romusha Jepang, untuk pembangunan rel kereta api dan penambangan batu bara dari Sijunjung Sumatra Barat menuju Pekanbaru, Riau.
"Pembukaan akses jalan kemudian dilanjutkan PT Manunggal Inti Artamas (MIA) yang kembali mengaktifkan penambangan batu bara sekitar 1980-an," ujar Rasul yang mengaku telah bertugas selama 30 tahun di Rimbang Baling.
Aktivitas PETI yang telah menghancurkan daerah aliran Sungai Singingi berlangsung mulus berkat dukungan para oknum pejabat dan aparat penegak hukum. Menurut Rasul, para pekerja tambang emas bukanlah warga asli.
Mereka didatangkan dari Pulau Jawa oleh para pemilik tambang yang rata-rata orang terpandang di Kabupaten Kuantan Singingi. Bahkan operasi penambangan PETI yang jelas-jelas melanggar hukum berlangsung mulus meski berlokasi persis di belakang Kantor Polsek Singingi Hilir.
"Semuanya kecipratan. Para pejabat dan aparat hukum di sini mendapat setoran dari penambang PETI. Bahkan sebagian aparat yang mempunyai usaha penambangan itu. Makanya PETI tak bisa diberantas di sini," ungkap Badrun, warga setempat.
Dia menambahkan aksi penambangan PETI bisa mendapatkan keuntungan luar biasa. Para penambang bisa memanen hasil hingga ratusan kilogram emas bahkan per ton emas dalam sebulan. Ia pun tidak terkejut warga di daerahnya lebih senang perkebunannya menjadi areal penambangan PETI. "Warga sudah banyak yang makmur dan sejahtera karena penambangan liar itu," kata Badrun.
Namun, tidak semua warga merasa senang dengan maraknya PETI. Sejumlah ninik mamak dan pemuka masyarakat mulai jemu akibat dampak kerusakan lingkungan dari penambangan liar itu. Mereka kemudian menggagas upaya penyelamatan lingkungan.
"Ikan sudah mulai sulit didapat. Air sungai sudah tidak jernih lagi. Sebab itulah warga bersepakat untuk kembali menetapkan lubuk larangan," ungkap Datuk Sati Syaiful Anwar.
Wild Crime Unit WWF Riau Osmantri yang ikut hadir dalam upacara penetapan lubuk larangan mendukung munculnya kesadaran warga untuk kembali menyelamatkan lingkungan.
Menurutnya, langkah warga Desa Petai yang mulai menyelamatkan lingkungan patut diapresiasi. Langkah itu, lanjut Osmantri, merupakan sebuah kemajuan untuk menyelamatkan kelestarian alam di lanskap SM Rimbang Baling.
"Kami sangat berterima kasih kepada warga Desa Petai atas kesadaran mereka untuk ikut andil dalam upaya penyelamatan konservasi alam. Kami yakin sungai tidak hanya memberikan manfaat, tapi juga sumber makanan bagi masyarakat," jelasnya. (RK/N-4)