Potensi Wisata Terabaikan

MI
08/4/2015 00:00
Potensi Wisata Terabaikan
(MI/RUDI KURNIAWANSYAH)
KEPALA Dinas Pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi Marwan tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia benar-benar takjub menyaksikan keindahan alam Rimbang Baling.

"Jujur, saya baru pertama kali ke Rimbang Baling. Potensi wisatanya sangat besar. Ini harus dimanfaatkan," kata Marwan kepada Media Indonesia.

Menurutnya, selama ini masyarakat Kuantan Singingi dan Riau pada umumnya hanya mengetahui pesona keindahan alam di Sumatra Barat.

Akan tetapi, Kuantan Singingi memiliki keindahan alam yang tidak kalah jika dibandingkan dengan daerah tetangga.

"Alam pegunungan dan perbukitan sangat sejuk. Belum lagi pemandangannya dan pesona air mancur. Sungai-sungainya jernih. Ini akan kita kembangkan sebagai objek wisata andalan," ungkap Marwan.

Pemandangan di sepanjang daerah aliran Sungai Singingi dan Sungai Tapi pada bagian hulu sungguh indah. Banyak perbukitan di wilayah yang masih cukup asri itu.

Sebaliknya, di bagian hilir, kondisinya sudah hancur. Air sungai yang dulunya jernih kini keruh. Kondisi sungai sudah rusak akibat penambangan emas tanpa izin (PETI).

Desa Muara Lembu yang dulunya merupakan salah satu objek wisata andalan Kuantan Singingi kini telah hancur. "Aktivitas PETI memang sulit dihentikan. Persoalan ini merupakan masalah nasional. Kami di pemerintah daerah sudah berulang kali melaporkan ke pusat agar pelakunya ditindak. Namun, hingga kini belum ada tindakan," kata Marwan.

Kawasan Rimbang Baling memang sudah cukup populer sebagai ekowisata yang cukup indah. Wilayah suaka margasatwa itu mencakup dua kabupaten, Kuantan Sengingi dan Kampar.

WWF ikut membantu mewujudkan ekowisata di kawasan Kampar itu. Syamsu, yang sehari-harinya bekerja sebagai anggota Tiger Protection Unit WWF, mengungkapkan setiap akhir pekan, kawasan ekowisata air terjun Batu Dinding di Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, ramai dikunjungi wisatawan.

Atas dasar itu, WWF bersama warga desa setempat membangun tiga selter sebagai tempat persinggahan. Untuk akses jalan masuk, warga membuat jalur khusus yang bisa dilewati dengan jalan kaki melalui jalan darat.

"Air terjun Batu Dinding mempunyai keistimewaan karena terdiri dari tiga lapisan air terjun. Air terjun pertama bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 5 menit. Air terjun kedua dan ketiga berada di puncak dan bisa ditempuh dalam waktu 10 hingga 15 menit," terang Syamsu.

Selain air terjun Batu Dinding, di cabang anak Sungai Bio-Bio terdapat air terjun dua lapis yang tidak kalah indah dari Batu Dinding. Air terjun Bio-Bio bisa dinikmati dari tepi sungai dan sedikit menanjak naik ke atas, dapat ditemui lapisan kedua air terjun serupa.

Di samping dua air terjun di sekitar Sungai Subayang dan Bio-Bio, alam Rimbang Baling menyuguhkan pesona pemandangan khas pegunungan. Dari puncak perbukitan di Desa Kota Lama atau sebelah barat Desa Tanjung Belit, pemandangan alur air Sungai Subayang bisa dinikmati.

Di lokasi tersebut, para penikmat alam dapat menikmati keasrian flora dan fauna Rimbang Baling dari atas puncak gunung. Sejumlah burung rangkong (enggang) dan elang terlihat beterbangan dengan bebas. Di antara pepohonan juga tampak sekelompok keluarga siamang yang bergelantungan, mengintip malu-malu dari dahan ke dahan.

Species Specialist WWF Indonesia Dr Sunarto mengungkapkan potensi ekowisata keindahan alam Rimbang Baling yang berjarak sekitar 150 km dari Kota Pekanbaru layak untuk dikembangkan. Kawasan seluas 136 ribu itu menyimpan segudang potensi kekayaan alam dan kekayaan sejarah.

Rimbang Baling telah ditetapkan sebagai kawasan lindung suaka margasatwa harimau sumatra sejak 1982. Dalam catatan sejarah, kawasan itu juga menjadi tempat pembangunan rel kereta api pada masa penjajahan Jepang. Banyak korban jiwa dalam pembangunan rel kereta api itu.

"Rimbang Baling ialah satu daerah gugusan resapan air serta zona hidup harimau sumatra yang saling terintegrasi dengan kawasan di atasnya di Harau, Payakumbuh, Sumatra Barat, dan di bawah dengan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan Taman Nasional Kerinci Seblat Jambi," jelas Sunarto. (RK/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya