PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Bengkulu tunda penaikan harga eceran tertinggi (HET) gas elpiji bersubsidi 3 kg yang tersebar di 10 kabupaten/kota pada 2015.
"Penaikan harga eceran tertinggi gas bersubsidi masih ditunda mengingat harga BBM terus naik dan turun sehingga akan berdampak pada warga kurang mampu," kata Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Sumardi di Bengkulu, kemarin.
Untuk HET, lanjut dia, surat keputusannya hingga saat ini belum ditandatangani oleh Gubernur Bengkulu, karena masih melihat kondisi ekonomi warga. Adapun harga elpiji 12 kg terus naik harga dari Rp150 ribu menjadi Rp160 ribu per tabung.
Sudarwan, 56, penjual elpiji di Kelurahan Surabaya, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, mengatakan harga elpiji tabung 12 kg dijual dengan harga baru, yakni Rp160 ribu dari sebelumnya hingga Rp150 ribu per tabung.
Harga elpiji 12 kg terus naik, seiring naiknya harga BBM sehingga warga sebagian beralih ke elpiji 3 kg. Tabung melon ini dijual hanya Rp17 ribu per tabung.
Dari Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dilaporkan, pasokan gas elpiji 3 kg mulai lancar. Namun demikian, harga gas bersubsidi itu terus naik.
Dedi, 30, seorang warga Kelurahan Lungge, mengatakan harga elpiji dirasakannya terus naik sejak tiga bulan terakhir. Semula harga gas tabung melon Rp16.500 per tabung pada tiga bulan lalu. Kemudian sekitar sebulan lalu naik lagi menjadi Rp17.500 per tabung.
"Lalu sekitar dua minggu lalu naik ke harga Rp18.000 per tabung. Terakhir sepekan lalu naik Rp500 per tabung menjadi Rp18.500 per tabung. Harga ini bertahan sampai sekarang," tutur Dedi, kemarin.
Dedi mengeluhkan penaikan harga yang terus-menerus itu. Namun, jika harga masih dalam batas yang bisa ditoleransi, ia masih bisa memaklumi. Ia berharap harga gas bersubsidi tidak akan naik lagi. (MY/TS/N-2)