HIMPUNAN Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Tengah mendesak keseriusan Bulog menyerap gabah petani yang harganya semakin anjlok.
"Petani harus benar-benar diberi semangat mengelola ta-naman pangannya. Ada harga pembelian petani (HPP) baru, petani tetap tidak bisa menikmati. Dengan harga gabah panen raya hanya Rp3.500 per kg jelas tidak menguntungkan petani," tegas Ketua HKTI Jawa Tengah Gunadi Wiryo Sukarjo saat ditemui Media Indonesia di Tasikmadu, kemarin.
Dia mendesak agar Bulog sigap mendatangi petani dan memberi harga sesuai HPP sehingga petani semangat saat memasuki musim tanam II. "Agar bersemangat mengelola padi lagi," ujarnya.
Dia menambahkan, karena masa panen raya masih lama, hingga awal Mei, petani di Jawa Tengah bakal terus dipermainkan spekulan dan pengijon. Dampaknya, harga gabah akan terus turun yang membuat para petani tertekan.
Gunadi meminta agar Bulog tidak memilih-milih gabah petani. Alasannya selama masa pengelolaan padi hingga dimulainya panen, petani sudah berjuang supaya hasilnya baik termasuk mengendalikan hama padi.
"Di Kabupaten Sukoharjo, panen per hektare rata-rata bisa mencapai 7 ton gabah kering giling. Ini sungguh menggembirakan. Namun jika harga gabah jatuh, Bulog harus mengambil gabah petani secara maksimal.
"Sebelumnya Kepala Bulog Subdivre III Solo Yudi Prakasa Yudha menegaskan pihaknya sudah turun ke sawah dan menyerap gabah dan beras panen raya. Ada 96 mitra Bulog diterjunkan untuk membeli gabah petani.
"Namun tentunya pembelian gabah atau beras, ya harus sesuai persyaratan Inpres 5/2015 tentang HPP," ujarnya.
Di Bali, harga gabah kering panen makin anjlok seiring telah masuknya panen raya. Penurunan harga gabah itu sudah hampir menyentuh HPP.
Saat ini harga gabah di tingkat petani dalam sepekan ini dari Rp4.200 per kg menjadi Rp3.850-Rp3.900 per kg.
"Memang harga gabah di petani turun drastis, tapi kami belum juga bisa membelinya karena masih di atas HPP," ujar Kepala Bulog Bali, Wayan Budita.
Jual ke tengkulak Para petani di Kampung Lio Kidul, Desa Buniwangi, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai menikmati hasil panen.
Maesaroh, petani di Kampung Lio Kidul, mengungkapkan tahun ini lahan garapannya seluas 500 meter persegi menghasilkan 3 kuintal gabah basah. Ia pun menjual ke tengkulak Rp370 ribu per kuintal karena lebih menguntungkan.
Pada bagian lain, sejumlah pedagang beras di Pasar Beras Bendul Mrisi, Surabaya, meminta pemerintah tidak melakukan operasi pasar terlebih dahulu. Pasalnya mereka khawatir dampak operasi pasar membuat penjualan beras di tingkat pedagang tidak laku. Stok beras akan menumpuk.
"Stok beras di tingkat pedagang sangat banyak sejak operasi pasar beberapa waktu lalu. Untuk sementara kami berharap jangan ada operasi pasar," kata Sudarno, pedagang beras di Pasar Bendul Mrisi, kemarin.
Operasi pasar dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga beras di pasar. Akibatnya, beras di tingkat pedagang tidak laku dan menumpuk di gudang. Pascaoperasi pasar, kondisi masih belum normal. Daya beli konsumen terhadap pasar di tingkat pedagang terus menurun. (RS/BB/FL/N-4)