Tiga Fenomena Picu Bencana 

Agus Utantoro
19/3/2019 02:30
Tiga Fenomena Picu Bencana 
( ANTARA FOTO/Siswowidodo)

BANJIR dan tanah longsor melanda sejumlah daerah disebabkan adanya pertemuan tiga fenomena yang memicu hujan deras dalam waktu lama. “Ada Madden Julian Oscillation atau MJO bertemu dengan puncak musim penghujan dan dua siklon yang berada di utara dan selatan Indonesia,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, di sela-sela pembukaan Sekolah Lapang Nelayan di Yogyakarta, Senin (18/3).

MJO bergerak dari Afrika ke arah timur melintasi Indonesia dalam siklus 60 hingga 90 hari sekali. “MJO merupakan fenomena baru yang muncul sejak beberapa tahun lalu. Saat ini MJO sudah mencapai sekitar Indonesia Timur sehingga masih diprakirakan terjadi hujan deras di wilayah tersebut,” terangnya.

Akibat hujan deras yang terjadi sejak Sabtu hingga Minggu (17/3), banjir menggenangi sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana menyebutkan, dua orang meninggal dunia dalam bencana tersebut. Kedua korban ialah Sudiatmojo, 80, dan Painem, 70, warga Kecamatan Imogiri. Hingga kini, tim SAR masih melakukan pencarian terhadap korban yang diduga tertimbun longsoran di Imogiri. 

Laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sebanyak 5.046 warga terdampak bencana banjir dan tanah longsor. Wilayah terdampak bencana di DIY meliputi 14 keca­matan dan 35 desa di Bantul. Kemudian di Kabupaten Kulon Progo, banjir melanda Pan­jatan, Wates, Sentolo, dan Temon. Kemudian tanah longsor terjadi di Kecamatan Kokap dan Girimulyo.

“Sebanyak 580 warga meng-ungsi di enam titik pos penampungan. Banjir menyebabkan 65 hektare sawah siap panen terendam banjir dan rusak. Bencana hidrologi juga melanda Jawa Tengah bagian selatan. Di Cilacap, banjir melanda Desa Sidareja, Gunungreja, dan Tegalsari. Seluruhnya berada di Kecamatan Sidareja.

Sementara itu, dari Banyumas dilaporkan warga bersama para relawan telah menambal tanggul secara darurat Sungai Angin yang berada di Kelurahan Sumpiuh, Kecamatan Sumpiuh. Koordinator Tagana Banyumas, Ady Chandra, menyebutkan saat tanggul jebol sempat menggenangi 13 rumah di desa se­tempat.  

Dari Jawa Barat, dua rumah di Kabupaten Kuningan, terancam roboh akibat longsoran tembok penahan tanah di Dusun Cipeuteuy RT 07 RW 02, Desa Pakapasan Girang, Kecamatan Hantara.

Gelombang laut tinggi 
Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur, Tim SAR berhasil mengevakuasi dua pemuda yang terseret gelombang tinggi di pesisir pantai Kelurahan Alak, Kota Kupang. Keduanya dievakuasi pada Minggu (17/3) dan Senin (18/3). Kedua korban bernama Furkon Ade Imran, 23, dan Umar Ali, 24.

Angin kencang di wilayah NTT memicu cuaca buruk. Aktivitas jasa pelayaran di Labuanbajo ditutup total oleh otoritas syahbandar. Pemicunya gelombang laut tinggi di Laut Flores barat mencapai 3 meter sejak Jumat (16/3) hingga kemarin. 

Pada bagian lain, BMKG Kelas 1 Depati Amir Pangkalpinang kembali mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai kemarin hingga Rabu (20/3). 

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Pangkalpinang, Kuniaji mengatakan cuaca ekstrem dan angin kencang masih berpotensi terjadi di Provinsi Bangka Belitung. (AT/LD/PO/UL/RF/JL/N-2)
 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya