Energi Membatik yang tidak Pernah Padam

(Ardi Teristi Hardi/N-2)
15/3/2019 01:30
Energi Membatik yang tidak Pernah Padam
(MI/Ardi Teristi Hardi)

JAM dinding menunjukkan pukul 12.30 WIB. Pendopo di Gazebo Kampung Batik Tulis Giriloyo tampak sibuk dengan aktivitas ibu-ibu PKK Desa Wonoasri, Kecamatan Wonoasri, Madiun, Jawa Timur, yang baru selesai belajar membatik.

“Di pendopo itu biasanya kami memberi pelatihan kepada para tamu. Bangunan pendopo dari bantuan CSR Pertamina. Selain itu, ada bantuan bangunan untuk pencelupan warna,” kata Ketua II Paguyuban Batik Giriloyo, Nurahmadi kepada Media Indonesia, pekan lalu sambil menunjuk tempat yang dimaksud.

Gazebo Kampung Batik Tulis Giriloyo merupakan pusat aktivitas desa wisata batik tulis Giriloyo. Di situlah aktivitas belajar membatik hingga ruang pamer batik tulis produksi warga setempat dilaksanakan.

Nurahmadi mengatakan, Desa Wisata Giriloyo terus berkembang sejak 2007 atau pascagempa bumi Bantul. Tahun lalu, kata dia, kunjungan ke Desa Wisata yang terletak di kaki perbukitan Imogiri tersebut mencapai 25 ribu orang.

“Hari ini saja, ada tamu (belajar membatik) dari Pasuruhan 100 orang dan Madiun 50 orang. Kemarin pagi pertukaran pelajar ASEAN dan rombongan Ibu Sri Mulyani pada sore hari belajar membatik di sini sekitar dua jam,” kata Nurahmadi.

Ia menyebut, rata-rata tamu yang belajar membatik menghabiskan waktu sekitar dua jam di Gazebo Giriloyo. Namun, ada pula belajar dalam hitungan hari atau minggu. Banyak yang bisa dipelajari di sini, mulai dari membuat desain batik, cara membatik dengan canting, proses pewarnaan, baik dengan warna alami ataupun sintetis, hingga kehidupan warganya.

Ia menyebut, hampir seluruh wilayah Indonesia pernah belajar membatik di Giriloyo. Dari luar negeri, wisatawan yang datang kebanyakan dari Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat. “Kekuatan kami memang di batik tulis. Di sinilah sentral batik tulis dan belajar batik pertama di Yogyakarta,” kata dia.

Motif-motif klasik menjadi andalan, seperti wahyu tumurun, sekar jagad, sidomukti, truntum, kawung, parang kusuma, dan parang gendreh. Namun, motif-motif pesanan kontemporer juga bisa dibuat di sini.

Batik di Desa Giriloyo selama ini memang dikenal karena kualitasnya yang sangat baik karena dikerjakan secara teliti dan oleh tangan tangan terlatih. Siti Anifah (43 tahun) salah satunya. Warga Giriloyo yang sudah sangat terlatih memegang canting dan mengguratkannya pada sembaran kain putih.

“Pengerjaannya sekitar tiga bulan bahkan ada yang sampai setahun lagi selembar kain batik baru bisa dijual,” cerita perempuan yang tergabung dalam Kelompok Berkah Lestari.

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR IV Andar Titi Lestari, yang meninjau desa batik itu sangat terkesan. Selama ini Pertamina dengan program CSR selalu peduli dengan pelestarian batik di Giriloyo.

 Menurutnya bantuan Pertamina kepada Kampung Batik Tulis Giriloyo sebagai wujud dukungan untuk mengangkat kembali potensi budaya membatik khusususnya dan mendukung objek wisata di DIY.  “Ini dukungan Pertamina untuk memajukan Desa Giriloyo,” pungkasnya. (Ardi Teristi Hardi/N-2)
 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya