Sesaji Nagari untuk Optimisme Indonesia 

(Ardi Teristi Hardi)
12/3/2019 23:00
Sesaji Nagari untuk Optimisme Indonesia 
(MI/Widjajadi)

DENDANG musik yang dimainkan Kuaetnika mengalun dengan indah di Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (10/3) malam. Konser bertajuk Sesaji Nagari tersebut sekaligus menjadi persembahan kelompok musik yang sudah ada sejak 1996 tersebut di Hari Musik Nasional yang diperingati tiap 9 Maret.

Bunyi alat musik tradisional seperti kendang Bali, ketipung, bonang, reong, calung, rebana, saron, hingga suling berpadu dengan bunyi alat musik modern seperti drum, keyboard, gitar, dan bas. Lantunan suara dua vokalis, Silir Pujiwati, Anita Siswanto, dan Djaduk Ferianto, membuat komposisi-komposisi lagu yang dibawakan semakin memberi makna yang mendalam.

Sekitar 10 lagu yang dibawakan Kuaetnika malam itu. Sebagian besar merupakan lagu-lagu daerah dengan aransemen musik yang baru, seperti Kadal Nongak (Lombok), Doni Dole (Sulteng), Batang Hari (Jambi), Lalan Balek (Bengkulu), Ulan Andung Andung (Banyuwangi), Made Cenik (Bali), dan Sigulepong (Batak). Selain itu, ada lagu dengan bahasa Indonesia, seperti Anak Khatulistiwa, Sesaji Negari, dan Air Kehidupan.

Sang pemimpin Kuaetnika, Djaduk Ferianto, menuturkan bahwa konser tersebut menunjukkan betapa kayanya musik di Indonesia. Musik tradisi bisa berkolaborasi dengan musik modern. 

Kuaetnika, cerita Djaduk, baru mengaransemen ulang lagu-lagu daerah di Indonesia. Lagu-lagu itu dikreasi dan dikembangkan agar lebih dinamis. Lagu-lagu daerah sangat penting karena memberi kontribusi untuk Indonesia.

“Indonesia bukan cuma orang Jawa, bukan Sumatra saja, bukan orang Sulawesi saja, tetapi semua daerah memberikan kontribusi kepada Indonesia,” ujarnya di saat jeda konser.

Dia melanjutkan, Indonesia memiliki berbagai suku, adat, budaya, dan agama, yang merupakan anugerah dan aset kekayaan yang tidak dimiliki negara lain. Dari berbagai corak dan ragam itulah Kuaetnika tertantang untuk merawat dan mengembangkan agar budaya yang istimewa ini bisa lebih dikenal luas.

“Indonesia harus disambut dengan optimistis, bukan pesimistis. Siapa pun pemimpin negara ini harus optimistis untuk Indonesia maju, bukan mundur,” kata Djaduk.

Sesaji Nagari adalah puji-pujian atau doa untuk memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Di tengah-tengah konser, sebuah tumpeng dihadirkan untuk melengkapi pergelaran itu. Tokoh nasional yang tinggal di Yogyakarta, Mahfud MD, pun didapuk memanjatkan doa dan memotong tumpeng. Mahfud menyebut Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri. 

“Mari kita berdoa untuk keselamatan bangsa dan kebersatuan kita semua,” kata Mahfud. (Ardi Teristi Hardi)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya