PENAIKAN harga elpiji 12 kg telah menggelisahkan kalangan peternak ayam di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Apalagi, mereka mendengar Pertamina akan mengoreksi harga elpiji tabung biru itu tiap dua minggu, dengan kecenderungan naik dan bukan turun.
Seperti Diketahui, per 1 April 2015, PT Pertamina menaikkan harga tabung gas elpiji 12 Kg dari semula Rp134 ribu menjadi Rp141 ribu, sedangkan harga ke konsumen mencapai Rp150 ribu.
"Harga elpiji 12 kg yang melonjak menjadi Rp150 ribu (naik Rp8 ribu dari harga sebelumnya) sungguh membuat peternak ayam kelimpungan. Apalagi, jika Pertamina akan terus mengoreksi harga setiap dua minggu. Ini sungguh mengerikan sebab pada saat sama, harga pakan juga naik tajam," tukas Wardoyo, peternak ayam di Kecamatan Matesih, kemarin.
Hal sama dikemukakan oleh sejumlah peternak ayam broiler di Kecamatan Tasikmadu. Naiknya harga elpiji 12 kg yang berfungsi sebagai bahan bakar mesin penghangat, maka ongkos produksi telah naik hingga 15% lebih, mengingat harga pakan juga naik.
"Pemerintah harus memerhatikan peternak karena harga ayam potong sempat anjlok. Ini tentu menyakitkan karena kini harga elpiji 12 kg naik menjadi Rp150 ribu, pakan ikut naik Rp200 per kg ," ujar Ari Siswanto, peternak Kebon Agung, Tasikmadu.
Dia paparkan, peternak menginginkan ayam menetas dengan baik dan tumbuh sehat hingga siap potong. Itu membuat peternak tidak berani mengurangi takaran gas elpiji. Padahal, kebutuhan per bulan elpiji 12 bisa mencapai 45 tabung.
Sementara di wilayah Brebes, Jateng, sepekan pascapenaikan tabung gas elpiji 12 kg belum berdampak pada melonjaknya pembelian gas tabung 3 kg. Sejumlah Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) tabung gas melon masih mengantisipasi dan siap jika harus menambah pasokan.
Direktur PT Mitha Jaya Kusuma yang berlokasi di Jalan Banjaratma, Kecamatan Bulakamba, Ponco Susilo, menjelaskan pihaknya masih mengalokasikan tabung gas 3 kg ke pangkalan-pangkalan dengan kuota 95 ribu sepekan. (WJ/JI/N-2)