Ronda Merapi kembali Diaktifkan

Ardi Teristi Hardi 
07/3/2019 23:45
  Ronda Merapi kembali Diaktifkan
(ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

WARGA di desa teratas lereng Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menghidupkan kembali kegiatan Ronda Merapi. Ini sebagai antisipasi dan kewaspadaan karena semakin seringnya terjadi guguran lava dan awan panas dari gunung teraktif di dunia tersebut.

“Masyarakat di lereng Merapi sejak beberapa waktu lalu mulai menghidupkan kembali kegiatan Ronda Merapi seiring semakin seringnya terjadi guguran lava dan awan panas guguran dalam beberapa hari terakhir ini,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Makwan di Sleman, Kamis (7/3).

Menurut dia, Ronda Merapi ini dilakukan bukan hanya di Desa Glagaharjo, desa yang masih terdapat sejumlah warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi, melainkan juga di desa-desa lain di lereng Merapi. “Ronda Merapi juga dilakukan masyarakat di Kinahrejo, Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, di Dusun Turgo, Kecamatan Pakem, dan daerah lain yang juga punya potensi bahaya besar juga dilakukan,” katanya.    

Ia mengatakan, selain itu Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sleman juga turut andil dalam menjaga kondusivitas di lereng Merapi. “Setiap saat TRC menyambangi warga yang tengah melakukan Ronda Merapi, sekaligus untuk mengecek dan melihat situasi dan kondisi Merapi.” 

Makwan mengatakan, komunikasi antarwarga yang sedang melakukan ronda juga penting agar bisa saling bertukar informasi terkait dengan kondisi terkini dan koordinasi bisa menjadi mudah. “Komunikasi melalui HT, dan selama ini berlangsung lancar,” katanya.    

Kepala Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Suroto mengatakan aktivitas Merapi memang tidak dapat diprediksi, termasuk luncuran awan panas guguran. “Sehingga adanya kegiatan ronda yang dilakukan warga secara bergiliran ini untuk menjaga kondusivitas warga sekitar.”

Suroto mengatakan, untuk ronda Merapi ini dilakukan warga pada masing-masing gardu atau poskamling mulai pukul 21.00 hingga 02.00 WIB. Bukan warga saja, melainkan komunitas relawan juga turut serta. 

Awan panas
Gunung Merapi dua kali mengeluarkan awan panas kemarin. Menurut Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), awan panas pertama terlihat pada pukul 07.44 WIB sejauh sekitar 1.200 meter ke arah Kali Gendol dengan durasi 121 detik.    

Awan panas kedua terjadi pada pukul 10.17 WIB dengan durasi 97 detik yang mengarah ke tenggara atau arah Kali Gendol. “Awan panas masih dalam jarak aman rekomendasi. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa,” tulis BPPTKG dalam akun resmi Twitter-nya.

Hingga saat ini BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada level II atau waspada, dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.   

BPPTKG juga mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi, sehubungan dengan kejadian guguran awan panas guguran dengan jarak luncurnya semakin jauh.

Selain itu, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol agar meningkatkan kewaspadaan. (Ant/X-10)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya