13 Tahun Menanti Kabar dari Singapura

(Supardji Rasban/X-10)
07/3/2019 23:15
13 Tahun Menanti Kabar dari Singapura
(Sumarwi, 59, ibu dari seorang TKW bernama Uun Kunaesih, 37, warga Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Brebes. MI/Supardji Rasban)

KISAH sedih tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri tidak pernah ada habisnya. Kali ini dialami Uun Kunaesih, 37, warga Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Uun berangkat kerja ke Singapura sejak 13 tahun lalu, tetapi hingga kini tidak ada kabar beritanya.

Sumarwi, 59, ibu Uun, mengaku kerap menangis jika mengingat anaknya itu. Dia berharap pihak-pihak terkait, terutama Badan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP2TKI), membantu kepulangan anaknya ke kampung halaman.

Saat hendak berangkat ke Singapura, Sumarwi sudah mewanti-wanti anaknya kalau sudah sampai supaya segera kirim surat ke kampung halaman. Namun, hingga kini tak ada kabar sekali pun.

“Kami sekeluarga di rumah jadi bingung. Kadang kalau malam-malam ingat anak saya itu saya menangis sejadi-jadinya,” tuturnya.

Menurut Sumarwi, anaknya pergi bekerja ke Singapura untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar mendapat banyak uang. 

Sumarwi yang ditemui di rumahnya Desa Teglagah, kemarin, menjelaskan keberangkatan anaknya melalui orang sekampungnya yang menjadi agen pemberangkatan tenaga kerja ke luar negeri. Namun, orangnya sudah pindah rumah ke Pemalang, Jawa Tengah.

“Kami sudah berulangkali menemui orang pertama yang memberangkatkan anak saya, tapi selalu disuruh bersabar, nanti juga pulang. Nyatanya sampai sekarang tidak ada kabarnya sama sekali. Boro-boro kirim uang,” ucapnya.

Menurut Sumarwi, sekarang sudah tidak begitu berharap pada kiriman uang dari anaknya tersebut. “Yang penting ngabari saja syukur kalau bisa pulang, soal uang itu sudah tidak saya pikirkan,” jelasnya.

Mohammad Toha, kerabat Sumarwi, mengaku sudah berupaya untuk bisa menghubungi Uun Kunaesih, anak kedua pasangan Sumarwi dan Jumidin, yang merupakan petani itu. Selain mendatangi perusahaan yang memberangkatkan, yaitu PT Amrita Mahesa di Gunung Putri, Bogor, juga ke BP2TKI, ke Kementerian Luar Negeri, dan Polda Metro Jaya, Jakarta.

“Saya sudah membantu mencari kabar keberadaan Uun Kunaesih sampai ke mana-mana ke instansi terkait, tapi belum ada hasilnya,” ujarnya.

Toha menjelaskan, terakhir di Polda Metro Jaya disarankan untuk datang ke kantor Imigrasi menanyakan permohonan deteksi atas nama Uun Kunaesih. Namun, mereka belum melakukan karena kesibukan juga terbentur biaya perjalanan.

“Keluarga sudah banyak mengeluarkan uang untuk ongkos kian kemari mencoba mencari keberadaan anaknya, tetapi hasilnya masih belum jelas. Sekarang mereka hanya bisa mengimbau pihak-pihak terkait untuk bisa menolong agar Uun Kunaesih bisa pulang ke kampung halaman,” terang Mohammad Toha. (Supardji Rasban/X-10)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya