Harga Gabah tidak Menguntungkan

MI/BAGUS SURYO
07/4/2015 00:00
Harga Gabah tidak Menguntungkan
(ANTARA/FIQMAN SUNANDAR)
MESKIPUN Kabupaten Malang, Jawa Timur, sudah memasuki panen raya sejak Januari, harga gabah belum dinikmati petani.

Kepala Dinas Pertanian Pemkab Malang Tomie Herawanto menjelaskan pihaknya mendapat masukan dari 33 kecamatan soal realisasi panen dan harga gabah yang belum menguntungkan petani.

Data sementara yang masuk, panen padi selama Januari tahun ini 2.553 ton. Realisasi panen Februari sebanyak 2.211 ton di lahan sawah dan 80 ton di lahan tegalan, sedangkan pada Maret terdata 341 ton sehingga total realisasi panen Januari-Maret 5.185 ton.

Pada awal April ini ditargetkan 42 ribu hektare, tetapi sejauh ini sudah mencapai 43.161 hektare. "Meski sudah memasuki musim tanam dan dibarengi tanam, harga gabah masih belum menguntungkan petani. Saat ini harga gabah kering panen di tingkat petani Rp4.100 per kg. Harga itu belum menguntungkan petani. Idealnya harga gabah kering panen Rp4.500 per kg," tegasnya.

Di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, harga beras di sejumlah pasar tradisional terus menurun. Saat ini harga beras premium dari Rp12 ribu per kg menjadi Rp11.500 per kg dan Rp11.000 per kg.

Pedagang mengatakan harga beras tingkat distributor sudah turun sehingga mendorong harga eceran beras turun.

Adapun petani Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, resah dengan munculnya serangan hama blast. Hama yang menyerang bagian tangkai malai padi mengakibatkan sebagian bulir padi kosong dan tak berisi.

Syamsul Rijal, petani di Desa Tenajar Lor, Kecamatan Kertasmaya, Kabupaten Indramayu, menjelaskan serangan hama blast atau hama teklik terjadi saat petani sedang menanti musim panen rendeng. "Dipastikan, hasil panen berkurang," kata Syamsul, kemarin.

Keluhan sama disampaikan Carsita. Lahan sawahnya seluas 0,7 hektare yang biasa memproduksi gabah 5 ton kini hanya menghasilkan 4,5 ton akibat serangan teklik.

Di tengah panen raya, sebagian wilayah justru terendam banjir. Meluapnya Sungai Bengawan Solo dalam dua hari terakhir menyebabkan sedikitnya 200 hektare tanaman padi berusia 70 hari di delapan desa, Kecamatan Rengel, Tuban, Jawa Timur, terendam banjir. "Saat ini banjir sudah surut, tapi tanaman padi masih terendam banjir 100 cm," terang Saturi, warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel.

Sebaliknya, musim hujan seperti sekarang ini menguntungkan para petani di Desa Selacau, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Menurut Ayi, 49, petani setempat, dengan banyaknya curah hujan, masa tanam dan panen bisa tiga bulan sekali. Bila jarang hujan, panen di desa itu lima bulan sekali.

Terserap di Jabar

Pada bagian lain, sebagian hasil panen di Cilacap, Jawa Tengah, terserap ke Jawa Barat. Diperkirakan, 50 truk membawa hasil panen dari Majenang setiap harinya ke Jawa Barat. Akibatnya, saat ini mitra Bulog Subdivre Banyumas berebut hasil panen.

Sekretaris Asosiasi Perberasan Banyumas Faturrahman mengungkapkan banyaknya penyerapan yang dilakukan para pedagang dari Jabar lantaran penyerapan di Bulog Jabar tidak terlalu ketat. "Makanya setiap hari setidaknya 50 truk mengangkut hasil panen ke Jabar. Kalau memasok ke Bulog Banyumas, seleksinya sangat ketat. Inilah salah satu kendala penyerapan belum maksimal," ungkapnya.

Terpisah, Kepala Bulog Subdivre Banyumas Rudi Amran mengungkapkan sampai sekarang jumlah kontrak untuk beras mencapai 400 ton dan gabah kering giling 500 ton.

"Sudah ada gabah petani yang terserap, tetapi jumlah masih kami rekap. Ada 53 mitra Bulog yang siap menyerap, ditambah Satgas Bulog," kata Rudi. (LD/UL/PO/TS/DG/YK/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya