Benor FM Tempat Orang Rimba Sapa Dunia

MI/SOLMI
07/4/2015 00:00
Benor FM Tempat Orang Rimba Sapa Dunia
(MI/SOLMI)
"SELAMAT pagi menjelang siang, Bepak-Bepak dan Induk-Induk. Namo akeh Bejujung dan Beteduh. Akeh ndok bececakop dengan Bapak Rajo Godong. Rimbo kami lah habih, banyak sanak kami yang mati karno payah cari makan. Pamono menurut Rajo Godong?

"(Selamat pagi menjelang siang Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Nama saya Bejujung dan Beteduh. Saya mau mewawancarai Bapak Gubernur. Hutan kami sudah habis. Banyak keluarga kami meninggal karena sulit mendapatkan bahan makanan. Bagaimana menurut Pak Gubernur?).

Itulah sapaan pembuka Bejujung, penyiar radio Benor FM di depan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus dalam acara Kick Off Benor FM di aula Kantor Gubernur Jambi di Telanaipura, Kota Jambi, Selasa (31/3).

Ia dan Beteduh, pemuda asal orang rimba, mengelola radio komunitas orang rimba Benor FM. Keduanya pun saat bertemu dengan gubernur menginginkan pemerintah setempat mendukung perluasan jangkauan radio komunitas tersebut. Bukti dukungan itu terlihat dengan adanya studio mini Benor FM di Kantor Bappeda Jambi.

Gubernur membalas sapaan Bejujung dan Beteduh dengan senyum lebar. "Selamat pagi, Bejujung! Saya ingin menyampaikan bahwa pemerintah baik di kabupaten, provinsi, maupun pemerintah pusat punya perhatian dan berkomitmen sungguh-sungguh untuk mewujudkan kesejahteraan dan kenyamanan hidup bagi saudara-saudara kita orang rimba di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas," kata Hasran Basri Agus dengan wajah gembira.

Dia menyatakan senang melihat kemajuan orang rimba melalui jaringan siaran radio sebagai jembatan komunikasi orang rimba di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas.

Selain masalah kesehatan, lanjut gubernur, pemerintah akan memperhatikan masalah pendidikan, perekonomian, dan tempat hunian dengan tetap menghormati adat istiadat orang rimba.

Radio yang mengudara di frekuensi 88,8 FM itu dirintis pada 2011 oleh Komunitas Konservasi Indonesia Warsi Jambi. Nama Benor diambil dari nama umbi-umbian liar di hutan yang berkarbohidrat tinggi.

Untuk menjalankan program radio, anak-anak rimba tersebut agak kesulitan karena peralatan menggunakan sistem Linux dan editing audio 2013. Namun, empat pemuda rimba bernama Sidia, Tembuku, Beteduh, dan Bejujung yang bertanggungjawab atas siaran Benor FM bisa mengatasinya.

Gubernur dan kedua pemuda itu terlibat dialog yang bisa didengar sekitar 1.700 jiwa suku rimba yang tersebar di 24 kecamatan sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas. Gubernur kemudian memberikan sebanyak 200 unit radio transistor kepada beberapa kelompok orang rimba. (N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya