Kejenuhan Berbuah Karya Paten

Muhammad Ghozi/N-2
26/2/2019 03:20
Kejenuhan Berbuah Karya Paten
(MI/M GHOZI )

ABDURRASYID, warga Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, tersenyum bahagia saat menunjukkan sebuah sertifikat kepada Media Indonesia yang datang ke rumahnya, Senin (18/2). Sertifikat yang dibingkai pigura itu ialah sertifikat hak cipta yang baru diterimanya, beberapa waktu lalu.

Pemuda berusia 29 tahun itu merupakan satu dari dua orang pembatik yang menerima sertifikat perlindungan hak cipta dari Kementerian Hukum dan HAM, atas keberhasilan menciptakan motif pacar china. Sebuah motif baru batik tulis tradisional Madura. Selain dia, Salim, 30, warga desa yang sama, juga menerima sertifikat hak cipta atas motif batik tulis Junjung Drajat Kontemporer.

Ayah satu anak itu menunjukkan karya batiknya yang disimpan di ruangan berukuran 3 meter x 6 meter. Ruangan itu juga berfungsi sebagai ruang pamer batik tulis berbagai motif. Termasuk motif Kembang Jagad dan Serat Kayu yang selama ini banyak diburu penggemar batik tulis. “Ini motif pacar china yang saya ciptakan,” katanya sambil membuka sebuah kain berukuran 2 meter x 2,5 meter.

Sekilas, motif di kain jenis primis super itu tidak jauh beda dengan batik Madura lainnya. Didominasi gambar daun dan bunga, mirip motif Kembang Jagad, karena di kalangan pembatik tradisional Pamekasan, pantang menggunakan binatang sebagai motif batik. Bedanya, gambar pada batik pacar china, daun dan bunga pacar china lebih rapat dan perpaduan warnanya lebih beragam.

Lahirnya motif baru ini berawal dari kejenuhan. “Awalnya saya jenuh dengan motif yang ada karena membatasi kreativitas. Semua pola dengan menggunakan pakem konvensional sudah saya gunakan,” terang Abdurrasyid.

Dari kejenuhan itu, ia memberanikan diri lepas dari pakem batik dan mencoba mendesain motif baru yang belum pernah digunakan pembatik, baik di Madura maupun daerah lain.

Sampai akhirnya, ia tertarik dengan pohon pacar china. Tanaman yang banyak tumbuh di pekarangan rumah warga itu, kerap digunakan sebagai bahan pokok pewarna pakaian atau bahan untuk penghias kuku dan kulit lengan pengantin.

Setahun lalu, ia membuat motif dengan pola dasar daun dan bunga pohon pacar china. Awalnya kasar dan kaku, hingga akhirnya Abdurrasyid bisa menemukan pola dengan memadukan gambar daun pacar china dan bunga, dikombinasikan dengan warna beragam tanpa meninggalkan ciri khas batik Madura. Enam bulan lalu, batik pacar china itu pun mendapatkan hak paten dari Dirjen HAKI Kemenkum dan HAM, (Muhammad Ghozi/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya